"Saya minta Donny bisa hadir di rapat kita besok. Saya sudah minta ke Sekwan (Sekertaris Dewan) untuk menyampaikan undangannya," ujar Taufik di Gedung DPRD DKI, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (11/1/2016).
"Kita perlu tahu apa alasannya, (Kemendagri) perlu menjelaskan dong apa yang dikoreksi dan kenapa dikoreksi," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun 7 BUMD yang diusulkan Pemprov dalam Rancangan KUA-PPAS 2016, antara lain PT MRT Jakarta sebesar Rp 2,28 triliun, PT Jakpro sebesar Rp 2,95 triliun, PD PAL Jaya sebesar Rp 370 miliar, PT Bank DKI sebesar Rp 500 miliar, PD Dharma Jaya sebesar Rp 50 miliar, PT TransJakarta sebesar Rp 750 miliar dan PD Pasar Jaya sebesar Rp 370 miliar. Total dari PMP tersebut adalah Rp 7,27 triliun.
Selain membahas perihal dana PMP yang dicoret, politikus Gerindra itu juga berniat memperjelas soal hibah Bantuan Sosial (Bansos) Pemprov DKI pada tahun anggaran 2016. Taufik ingin pihaknya bisa membicarakan hal ini secara langsung dengan Donny dan pihak eksekutif yang diwakili TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah).
Sebab menurut Taufik, dari total anggaran hibah Bansos yang mencapai Rp 4 triliun dalam APBD 2016, Kemendagri menganulir Bansos untuk Badan Musyawarah Kebudayaan Betawi senilai Rp 5 miliar dan Lembaga Kebudayaan Betawi senilai Rp 2 miliar. Taufik menilai kebijakan Kemendagri itu tidak kuat dasarnya.
Sebab menurutnya, pelestarian kebudayaan asli Betawi sudah menjadi kewajiban setiap Gubernur DKI dan DPRD DKI yang menjabat.
"Ini yang saya bilang Kemendagri sangat normatif, orang salah satu tugas gubernur melestarikan budaya betawi, kok malah dilarang. Padahal hal itu sudah tertuang dalam Undang-Undang Perkotaan," kata Taufik.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) sempat kecewa dana hibah bansos dicoret Kemendagri. Dia juga berpendapat seharusnya dana Kartu Jakarta Pintar (KJP) tidak masuk dalam nomenklatur Bansos melainkan Dinas Pendidikan. (aws/rvk)











































