Dosen FK UI bidang forensik Wibisana Widiatmaka pernah mempublikasikan paparan mengenai definisi racun. Menurutnya, racun adalah bahan yang dalam jumlah relatif kecil, bila memasuki tubuh dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan sampai kematian. Cara masuk racun ke dalam tubuh bisa melalui mulut (saluran cerna), pernafasan, kulit dan peredaran darah.
Wibisana mengatakan, perubahan lebam mayat yang terpapar racun akan berbeda-beda. Hal ini karena ada racun yang menyebabkan gangguan pada sistem darah yang mengakibatkan perubahan warna darah dan ini akan menyebabkan perubahan warna lebam mayat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Baca juga: Mengenal Sianida, Racun Pembajak Oksigen yang Sangat Mematikan)
Penyebab kematian seseorang kerena diracun bisa diketahui dari autopsi. Ciri-cirinya adalah edema paru (paru yang mengalami 'pembengkakan'), adanya perdarahan pada alat dalam san sebagainya. Racun yang masuk ke dalam tubuh akan bekerja melalui pendarahan yang dikenal dengan istilah sistemik.
"Untuk pemastian jenis racun yang menimbulkan keracunan, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Umumnya pemeriksaan ditujukan pada darah, organ dalam atau air seni. Pada akhirnya, pemastian kematian akibat racun adalah temuan autopsi dan hasil laboratorium toksikologi," ucapnya.
Sementara itu Kadis Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi mengatakan racun sianida bisa membunuh dalam hitungan menit dan jumlah yang sedikit.
"Itu sedikit saja bisa bikin orang mati," ucap Koesmedi.
Penyebab kematian Mirna yang diduga karena racun sianida masih terus diselidiki polisi. Berdasarkan situs resmi BPPT, bahaya racun sianida jika dikonsumsi dalam jumlah besar dapat mengakibatkan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, seringkali disertai kejang dan kematian. Umumnya dampak tersebut akan langsung terasa dalam waktu 1 – 15 menit.
Konsentrasi yang lebih rendah dapat mengakibatkan korosi pada selaput lendir lambung, bau amandel yang tidak enak pada nafas, rasa terbakar, rasa tercekik pada tenggorokan, hingga erupsi noda bintik pada wajah. Zat ini juga bisa menimbulkan efek pengeluaran air liur, mual dengan atau tanpa disertai muntah, kegelisahan, rasa bingung, pusing, perasaan gamang, rasa lemah, sakit kepala, denyut nadi cepat, palpitasi, kekakuan pada rahang bagian bawah, dan opisthotonos, laju dan kedalaman pernafasan umumnya meningkat pada awalnya dan kemudian menjadi lambat dan terengah-engah. Dapat terjadi pengeluaran urin diluar kemauan serta diare.
Pada tahapan kejang-kejang, dapat diikuti dengan kelumpuhan. Bola mata dapat menonjol keluar dan manik mata dapat menjadi tidak reaktif. Kerusakan terhadap saraf optik dan retina, serta kebutaan kemungkinan dapat terjadi. Mulut dapat berbusa, yang terkadang disertai darah, merupakan indikasi terjadinya edema paru. Jika kematian terjadi, biasanya dalam jangka waktu 4 jam dan dapat disebabkan karena terhentinya fungsi sistem pernafasan atau anoreksia pada jaringan. Gejala lain dapat meliputi nyeri dada, bicara tidak teratur, dan tahapan stimulasi pada susunan saraf pusat yang bersifat sementara yang disertai hypernea dan sakit kepala.
Efek sianida ternyata mengerikan. Bahkan, ganasnya zat ini bisa membunuh puluhan gajah. Pemburu liar, dari Riau hingga Zimbabwe, biasa menggunakan sianida untuk membunuh gajah. (slh/mad)











































