Racun Sianida yang Tewaskan Istri Hitler dan Ilmuwan Alan Turing

Racun Sianida yang Tewaskan Istri Hitler dan Ilmuwan Alan Turing

Nur Khafifah - detikNews
Senin, 11 Jan 2016 09:58 WIB
Racun Sianida yang Tewaskan Istri Hitler dan Ilmuwan Alan Turing
Foto: Wikipedia
Jakarta - Dari hasil autopsi polisi, Wayan Mirna (27) tewas karena tubuhnya terkena racun sianida yang terkandung dalam es kopi Vietnam. Sebetulnya, siapa saja yang pernah menjadi korban racun tersebut?

Dilansir dari berbagai sumber, Senin (11/1/2016), istri mantan pimpinan Nazi Jerman Adolf Hitler, Eva Braun, dan ilmuwan Inggris Alan Turing juga tewas karena serangan racun sianida. Keduanya sengaja menenggak zat mematikan ini untuk menghabisi nyawanya.

Pada 30 April 1945, Eva menghabisi nyawanya bersama dengan suaminya di dalam bungker saat tentara Uni Soviet mengejar mereka. Bedanya sang suami yang kekuasaannya nyaris runtuh tersebut menghabisi nyawa dengan menembak kepala, sementara Eva menenggak racun sianida. Keduanya tewas berdampingan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara ahli matematika, logika dan kriptografer Inggris Alan Turing yang merasa frustasi, memakan apel yang dicampur racun sianida pada tanggal 8 Juni 1954. Turing dihukum karena insiden Acts of Gross Indecency, setelah ia mengakui hubungan seksualnya dengan sesama jenis. Ia diberi pilihan penjara 18 bulan atau pengebirian kimia yang berefek pada pembesaran payudara.

Alan Turing (wikipedia)


Turing memilih pilihan kedua. Namun karena tak kuat menahan hinaan dan rasa sakit atas hukuman yang diterimanya, ia akhirnya memilih menghabisi nyawanya sendiri.

Berdasarkan situs resmi BPPT, bahaya racun sianida jika dikonsumsi dalam jumlah besar dapat mengakibatkan kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, seringkali disertai kejang dan kematian. Umumnya dampak tersebut akan langsung terasa dalam waktu 1 – 15 menit.

Konsentrasi yang lebih rendah dapat mengakibatkan korosi pada selaput lendir lambung, bau amandel yang tidak enak pada nafas, rasa terbakar, rasa tercekik pada tenggorokan, hingga erupsi noda bintik pada wajah. Zat ini juga bisa menimbulkan efek pengeluaran air liur, mual dengan atau tanpa disertai muntah, kegelisahan, rasa bingung, pusing, perasaan gamang, rasa lemah, sakit kepala, denyut nadi cepat, palpitasi, kekakuan pada rahang bagian bawah, dan opisthotonos, laju dan kedalaman pernafasan umumnya meningkat pada awalnya dan kemudian menjadi lambat dan terengah-engah. Dapat terjadi pengeluaran urin diluar kemauan serta diare.

Pada tahapan kejang-kejang, dapat diikuti dengan kelumpuhan. Bola mata dapat menonjol keluar dan manik mata dapat menjadi tidak reaktif. Kerusakan terhadap saraf optik dan retina, serta kebutaan kemungkinan dapat terjadi. Mulut dapat berbusa, yang terkadang disertai darah, merupakan indikasi terjadinya edema paru. Jika kematian terjadi, biasanya dalam jangka waktu 4 jam dan dapat disebabkan karena terhentinya fungsi sistem pernafasan atau anoreksia pada jaringan. Gejala lain dapat meliputi nyeri dada, bicara tidak teratur, dan tahapan stimulasi pada susunan saraf pusat yang bersifat sementara yang disertai hypernea dan sakit kepala.

Efek sianida ternyata mengerikan. Bahkan, ganasnya zat ini bisa membunuh puluhan gajah. Pemburu liar, dari Riau hingga Zimbabwe, biasa menggunakan sianida untuk membunuh gajah.

(Baca juga: Mengenaskan! 22 Ekor Gajah Mati Diracun di Zimbabwe) (kff/mad)


Berita Terkait