Mobil kami tancap ke arah selatan menuju daerah Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Di sebuah tempat makan, sudah menunggu sosok yang kami cari, yakni mantan pimpinan dan jubir KPK Johan Budi Sapto Pribowo.
Kala itu, Johan tampil sangat santai dengan kaus dan celana jeans. Kacamata hitam tersemat di wajahnya. Secangkir kopi hitam menemani mantan jurnalis itu duduk menunggu di sebuah kursi kayu yang tepat berada di pojokan tempat makan yang cukup besar itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kopi hitam dan beberapa makanan kemudian datang ke meja kami. Teguk demi teguk kopi pekat itu menemani perbincangan hangat hingga penghujung siang.
Kami terlibat perbincangan dalam kala itu. Johan Budi yang dikenal dingin kala bericara, mau menceritakan tentang sisi-sisi pribadinya, hal yang sangat jarang diketahui orang.
Cerita dimulai dari perjalanan hidup Johan Budi usai mengundurkan diri dari KPK. Mantan Jubir KPK itu seolah kembali menemukan 'hidupnya' yang selama 10 tahun lebih tak bisa dinikmati.
"Jadi setelah pelantikan pimpinan yang baru, setelah itu saya pulang kampung bertemu ibu kemudian 5 hari di sana. Lalu kembali ke Jakarta untuk menghadiri peresmian gedung KPK dan jadi narsum induksi pimpinan. Saya merasa nikmat sekali setelah itu, saya pagi ini bangun jam 10.00 WIB pagi kemudian langsung ngopi dan kita ketemu ini," kata Johan mengawali cerita panjangnya.
Saat kami terlibat perbincangan dalam, orang-orang yang lalu lalang di tempat makan itu mencuri pandang kepada kami, atau lebih tepatnya kepada sosok yang tengah menceritakan sisi lain hidupnya kepada kami. Maklum saja, hampir semua orang pasti mengenal Johan Budi sebagai sosok yang dingin dan tenang, namun saat itu orang-orang melihat Johan dalam 'bentuk lain'.
Johan lalu sedikit menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya. Ayah dua anak itu tak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Dia merasa kini bisa 'menebus dosa' terhadap keluarga kecilnya.
"Sekarang itu bisa bebas, terutama waktu. Dulu hampir tidak ada waktu misalnya arisan keluarga, anak saya ngajak event hanya ke TMII dulu itu belum sempat saya antarkan," tutur Johan sambil tersenyum.
Perbincangan kemudian berlanjut ke kisah masa muda pemegang penghargaan insan humas terbaik itu. Layaknya manusia pada umumnya, Johan muda juga melewati masa nakal.
Sebagai anak muda yang tumbuh di sebuah desa kecil di Mojokerto, Jawa Timur, Johan pernah begitu jatuh cinta pada sepeda motor. Semasa SMA, pria yang kini berusia 48 tahun itu pernah jadi 'jagoan jalanan'.
"Dulu saya suka balap liar, tapi dulu istilahnya bukan balap liar, dulu di Jatim itu di Surabaya sekitarnya itu ada namanya trek-trekkan. Itu taruhan dulu, saya sering lakukan itu," kisahnya.
Setelah itu, pembicaraan memasuki soal yang lebih privat, mulai dari karir hingga soal dapur rumahnya. Semua diceritakan Johan dengan terbuka. Bagaimana kisah kehidupan Johan Budi lainnya?
Johan Budi (Foto: Hasan Alhabshy/detikcom) |












































Johan Budi (Foto: Hasan Alhabshy/detikcom)