Saat sedang berjalan kaki menuju rumah dinasnya, Dedi kemudian melihat seorang pedagang tahu dan dua tukang becak sedang ngariung (berkumpul). Dedi lalu memanggil ketiganya untuk ikut bersamanya ke rumah dinasnya.
"Yuk sini ikut saya ke rumah dinas," ajak Dedi di Taman Air Mancur Sri Baduga, Purwakarta, Sabtu (9/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dedi kemudian dengan sigap mengangkat dagangan dari pedagang tahu yang belakangan diketahui bernama Asep Sumarna. Dengan riang Dedi membawa pikulan tahu sambil menawarkan tahu kepada warga sekitar.
"Saya dulu tuh malah bisa lebih bawa pikulan. Ini mah enteng. Dulu zaman muda saya bawa pikulan beratnya sampai 70 kilo. Kadang di kanan dan kiri," ucap Dedi.
![]() |
Kedua tukang becak bernama Sholeh dan Misnandar tampak bingung ketika diajak Dedi ke rumah dinasnya. Setibanya di rumah dinas, mereka bertiga masing-masing diberikan uang sebesar Rp 500 ribu untuk tambahan modal usaha oleh Dedi.
"Terima kasih bapak. Kirain teh ada apa dipanggil. Terima kasih bapak semoga rejeki bapak makin banyak," tutur Sholeh sambil menitikkan air mata.
Sholeh dan Misnandar sudah 20 tahun lebih menjadi tukang becak di Purwakarta, sedangkan Asep sudah 10 tahun menjadi pedagang tahu. Mereka tak menyangka hari ini mendapat durian runtuh.
"Ini saya kasih modal ya. Sekarang semua pada pulang. Gak usah jualan. Itu tahu saya borong semua aja. Kosongin. Jadi nanti pas balik pikulannya enteng," kata Dedi.
Di rumah dinas, Dedi meminta tahu disuguhkan di ruang tamu dan dibagikan ke petugas keamanan. (yds/trw)












































