Selain mengantarkan undangan Rakernas PDIP yang akan digelar tanggal 10-12 Januari mendatang, Hasto bersama elite PDIP lain juga melakukan dialog dengan oimpinan PBNU. Dalam dialog tersebut, Said Aqil mengaku PBNU dan PDIP memiliki kesamaan visi dan misi.
"Setelah tidak adanya GBHN (Garis Besar Haluan Negara), kebijakan negara menjadi tidak jelas. Demokrasi kebablasan arahnya kemana. Ada tantangan MEA, ada teroris, narkoba, prostitusi online," ujar Said Aqil usai pertemuan yang digelar tertutup di Gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Jakpus, Jumat (8/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PBNU mendukung gagasan PDIP ingin melihat kembali, mendukung amandemen UUD '45. Kalau mau diamandemen lagi nggak apa-apa. Kan setelah bertahun-tahun baru keliatan. Kami setuju kembalinya GBHN, MPR jadi majelis tinggi negara," jelas Said Aqil.
"Kami menyambut Rakernas PDIP, Insya Allah setuju. Gagasan tadi setuju," sambungnya.
Sementara itu Hasto yang hadir bersama Wasekjen PDIP Ahmad Basarah menyatakan Said Aqil berkenan hadir dalam Rakernas PDIP. Ia juga menyebut bahwa PDIP juga mengungdang para pimpinan lembaga agama lainnya.
"Pak Said berkenan hadir. Tadi kami juga sudah ke PP Muhammadiyah. Kami butuh seluruh spirit dan roh untuk kita angkat. Kami juga menerima buku Islam Nusantara dari PBNU," ucap Hasto.
Selain Hasto, turut hadir pula Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira dan Hamka Haque. Selain itu juga ada Ketua Bapilu PDIP Bambang DH dan anggota DPR Fraksi PDIP Falah Amru.
(elz/fdn)











































