Kejanggalan terhadap Randall sudah dirasakan pihak orangtua terutama ibunya ketika mengantar putrinya ke Klinik Chicopractic First pada 5 Agustus 2015 lalu. Saat itu, menurut pengakuan keluarga, Allya melihat promo penyembuhan penyakit yang diderita perempuan berusia 33 tahun tersebut.
"Allya tujuan hanya satu yaitu sehat. Tak ada masalah pada Allya sendiri. Hanya dia waktu itu melihat ada promo yang bisa sembuhkan tulang belakang, keluhan dari Allya sebelah kiri punggung. Karena dia dari situ, akan melanjutkan ke Paris tanggal 18 Agustus," ujar Rosita di Restoran Laguna, Senayan, Jakarta, Jumat (8/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, pria WNA itu hanya berpatokan rontgen lama yang dibawa Allya.
"Itu rontgen lama, setahun lalu. Juli 2014. Allya bawa itu waktu pertama kali keluhkan sakitnya. Kenapa Randall nggak rekomendasikan rontgen baru. Di sini ragu, apalagi Randall nggak bisa Bahasa Indonesia. Dia hanya diterjemahkan pegawainya," tutur Rosita.
Namun, melihat keinginan almarhum putrinya yang begitu kuat ingin melakukan pengobatan, rasa curiga itu dihilangkan. Tapi, rasa terkejut dialami ibunda Allya yang melihat langsung cara terapi Randall.
"Allya melakukan dua kali terapi pada siang dan malam. Ketika menyaksikan putrinya diterapi pertama kali, ibunda terkejut dengan cara threatment Randall," tuturnya.
Selesai terapi pertama, Allya belum mengalami kesakitan. Rasa sakit baru dialami setelah terapi kedua.
"Karena waktu pertama itu langsung dokter Randall. Kurang lebih 5 menit, Ibu Ida melihat putrinya di-threatment cukup shock, dan kaget," paparnya.
Kemudian, ayah Allya, Alfian Helmy merasa janggal dengan dokter Randall. Pasalnya, keyakinan Randall yang bisa menyembuhkan putrinya dalam waktu singkat menjadi dasarnya.
"Tanggal 18 berangkat ke Prancis. Katanya ini bisa dilakukan dalam dua kali sehari. Itu jam 2 sidang dan jam 7 malam," kata Helmi dengan suara pelan namun berat.
Yang membuatnya merasa heran ketika Randall dengan percaya diri mengatur terapi dua kali dalam sehari. Ia mencontohkan terapi tradisional seperti pijat refleksi punya waktu yang teratur dan sesuai logika.
"Pijat terapi refleksi saja dianjurin minggu depan, enggak dua kali sehari. Lah, ini sampai sehari dua kali. Katanya ini bisa dilakukan, karena tanggal 18 kan Allya mau ke Prancis," tuturnya.
Kecurigaan ini berlanjut setalah beberapa hari Allya meninggal dunia. Saat itu, salah seorang kakak Allya mengecek langsung Chiropractic First di Pondok Indah Mall (PIM) I.
"Anak saya yang ketiga ke Chiropractic, berkunjung sekalian tanya informasi. Dari situ banyak kejanggalan. Randall ditanya almamaternya, dia tak bisa menjawab, kualifikasi kemampuan terapinya, dia juga jawab kebingungan," sebutnya.
Mulai dari itu, keluarga Helmi yakin bila Randall serta Chiropractic bermasalah. Dugaan saat itu, klinik yang memiliki banyak cabang itu tak memiliki izin. Begitupun dengan Randall.
"Tempat ini tak berizin, kalau tak berizin, SDM juga tak berizin. Apalagi yang bersangkutan adalah orang asing. Dia mengaku dokter, itu harus mendapat izin dari Kemenkes. Dugaan kami terbukti ketika Suku Dinas DKI sidak, dan dinyatakan ilegal," tutur Rosita. (hat/dra)











































