SBY Perintahkan TNI AU dan AD Bantu AL Amankan Ambalat
Minggu, 06 Mar 2005 15:53 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang YUdhoyono (SBY) meminta agar TNI Angkatan Laut (AL) dan TNI Angkatan Udara (AU) memback up patroli di Perairan Ambalat, perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Saat ini, patroli di perairan itu baru dilakukan oleh TNI AL. Permintaan Presiden ini disampaikan saat memanggil Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan tiga kepala staf di Kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Minggu (6/3/2005). Pertemuan itu berakhir sekitar pukul 15.10 WIB. Menurut KSAU Marsekal Madya Djoko Suyanto, pemanggilan panglima TNI dan tiga kepala staf memang untuk membahas perkembangan Ambalat. "Ppresiden meminta kedua angkatan (AL dan AU), untuk memback up patroli laut di wilayah perairan Ambalat," kata dia. Atas perintah ini, kata KSAU, pihaknya akan mengirimkan sejumlah pesawat tempur TNI AU ke lokasi. Sementara KSAD Letjen DJoko Santoso menyatakan, belum ada perintah bagi TNI AD untuk menambah pasukan di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan itu. "Kekuatan di sana dianggap masih cukup. Jadi, kita belum ada deploy pasukan sejauh ini," katya dia. Permintaan presiden ini hanya sehari setelah Sabtu (5/3/2005) kemarin, KRI Rencong, salah satu dari lima KRI yang berjaga di daerah perbatasan itu, memergoki Kapal AL Malaysia, TLDM KD Kerambit. Tentu, kejadian ini bisa mengakibatkan peningkatahan ketegangan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia. Pasalnya, pemerintah Indonesia sebelumnya sudah meminta agar kapal dan pesawat Malaysia diminta tidak berlabuh dan terbang di kawasan Indonesia itu. Sempat terjadi ketegangan, karena sebelumnya kapal Malaysia meminta KRI Rencong segera meninggalkan wilayah itu. Namun, KRI Rencong malah mendekati kapal Malaysia itu dan mengusirnya dari wilayah itu. Tidak terjadi saling kontak tembak.
(asy/)











































