detikNews
Selasa 05 Januari 2016, 18:16 WIB

Kisah Pematung Legendaris

Kenangan Teman Seniman tentang Edhi Soenarso dan Pameran Pijat di Trotoar Senen

Salmah Muslimah - detikNews
Kenangan Teman Seniman tentang Edhi Soenarso dan Pameran Pijat di Trotoar Senen Foto: Komunitas Salihara
Jakarta - Sebelum meninggal, Empu Ageng Edhi Soenarso (83) pernah membuat pameran tunggal di Komunitas Salihara tahun 2010. Di sana pematung kesayangan Presiden Soekarno itu memamerkan karyanya berupa miniatur monumen-monumen di Ibu Kota dan patung-patung buatan pribadi dengan beragam judul seperti Istirahat, Pijat di Trotoar Senen dan Bersolek.

"Terakhir itu ada pameran tunggal tahun 2010 di Salihara, Jakarta Selatan. Itu pameran tunggal Pak Edhi, ada patung yang cukup menarik yakni Pijat di Trotoar Senen," kata kolega Edhi, Muhammad Wasith Albar, yang juga dosen Sejarah Kesenian FIB UI saat berbincang dengan detikcom, Selasa (5/1/2016).

Wasith yang hobi melukis ini mengenal Edhi melalui pameran-pameran yang diikutinya. Pernah suatu ketika Wasith mengobrol dengan Edhi namun pembicaraannya bukan seputar karya seni tetapi lebih sesuatu yang ringan seputar kehidupan sehari-hari. Wasith bertanya apa tipsnya bisa terus sehat di usia yang senja.

"Beliau bilang resepnya sederhana saja, senam pagi menghadap matahari dan tarik nafas berulang-ulang," ucap Wasith.

Wasith mengatakan, Edhi adalah seorang pematung yang sangat legendaris dengan aliran ekspresifnya. Berbagai karyanya menonjolkan ekspresi yang begitu kental seperti misalnya patung Dirgantara di Pancoran, Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia dan patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng.

"Ekspresifnya begitu menonjol, seperti patung Dirgantara dengan urat di tangan dan di dadanya menunjukkan kedigdayaan Angkatan Udara kita sudah sama dengan negara lain. Patung itu ekspresi wajahnya hingga menonjolkan urat-uratnya menunjukkan bagaimana semangat seorang pemuda," jelas Wasith.

Selain patung-patung besar di Ibu Kota, Edhi juga membuat sejumlah diorama, di antaranya diorama Monas, Lubang Buaya dan Pusat Sejarah ABRI. Menurut Wasith dalam diorama bukan hanya sekadar patung, tapi ada ekspresi yang ditonjolkan agar orang yang melihat bisa merasakan momentum saat itu.

"Diorama itu biasanya terdiri dari beberapa patung yang divisualkan dengan landscape. Di dalam membuat diorama itu unsur utama patung, bukan patung biasa karena harus mampu realis mengangkat ekspresi," ucap Wasith.

Edhi meninggal pada Senin (4/1/2016) pukul 23.15 WIB di RS Jogja International Hospital.  Selain sebagai pematung, Edhi  juga dosen pada Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Edhi juga dinobatkan sebagai Empu Ageng oleh ISI Yogyakarta.


Berbagai patung karya Edhi Soenarso (Foto: Dok Kemendikbud)

(slm/nrl)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com