DetikNews
Selasa 05 Januari 2016, 16:50 WIB

Kisah Pematung Legendaris

Kenangan Menyentuh Anies Baswedan Tentang Sosok Empu Edhi Soenarso

Salmah Muslimah - detikNews
Kenangan Menyentuh Anies Baswedan Tentang Sosok Empu Edhi Soenarso Mendikbud Anies memimpin salat jenazah Edhi Soenarso (Foto: Dokumen Kemendikbud)
Jakarta - Mendikbud Anies Baswedan memiliki kenangan mendalam pada sosok maestro pematung Indonesia Edhi Soenarso yang wafat tadi malam di Yogyakarta. Anies melayat ke rumah duka, memimpin salat jenazah dan membacakan eulogi (catatan pujian atas seseorang yang sudah meninggal) untuk Edhi Soenarso.

Upacara pemakaman dilakukan di rumah duka di Desa Nganti, RT 01 RW 07, Jalan Cempaka No. 72. Mlati, Sleman, Yogyakarta. Anies menyampaikan duka cita atas meninggalnya Edhi.

"Kami turut belasungkawa atas berpulangnya maestro terbaik Indonesia, Empu Ageng Seni Edhi Soenarso," kata Anies saat melayat di rumah duka, Selasa (05/01/2016).

Aneis mengenal sosok Edhi semasa ia duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Kala itu Anies bersama-sama teman-temannya sering bermain dan menyaksikan proses pembentukan patung di bengkel Edhi yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya di Jl Kaliurang, Km 5,5.  

Sebelum jenazah dimakamkan, Anies membacakan eulogi untuk Edhi Soenarso. Berikut eulogi lengkap Anies untuk Edhi:

Di tepi jalan Kaliurang yang kala itu masih lengang, tepatnya di km 5,5, ada sebuah rumah luas dengan berbagai bongkahan material komponen patung-patung. Di belakang rumah itu ada bengkel patung di mana saya dan teman-teman SD masa itu sering main dan menyaksikan proses pembentukan patung-patung. Rumah dan bengkel luas itu hanya  beberapa ratus meter dari rumah kami.

Kami mengenal sosok seniman dan pemilik bengkel patung tadi sebagai Pak Edhi Soenarso yang tinggal sekeluarga di Jalan Kaliurang. Pak Edhi mungkin tidak kenal kita, anak-anak usia SD yang suka melihat, tapi ia biarkan kita melihat dari dekat. Dan itu mengesankan.

Pak Edhi Soenarso dan almarhum istrinya adalah tokoh dengan pergaulan nasional tapi berinteraksi dekat dengan lingkungan di kampungnya di sini. Di rumahnya yang cukup besar untuk ukuran masa itu, berbagai acara UKEL-GOTRO, nama paguyuban kampung kami di jalan kaliurang, dilakukan. Saya juga sesekali datang sambil melihat-lihat mobil Mas Satya Soenarso, yang terkenal sebagai pembalap di masa itu. Keluarga Edhi Soenarso telah jadi bagian bermakna bagi kami semua.

Maestro sekelas Edhi Soenarso tak muncul di Republik ini setiap saat. Maestro sekelas Edhi Soenarso muncul dari kombinasi limpahan bakat, tempaan pengalaman, dan aliran dedikasi berkarya yang tak henti.

Dari Pak Edhi Soenarso kita belajar bahwa gelaran ribuan karya seni rupa yang dihasilkannya tidak muncul begitu saja dengan mudahnya, tapi mereka muncul melalui kerja keras yang dilakukan dengan cinta, kreativitas dan sepenuh jiwa. Kerja keras dan rasa cinta terhadap bidang yang digelutinya ini yang mengukuhkannya menjadi peletak dasar-dasar seni patung modern Indonesia di awal masa perkembangannya. Pak Edhi juga seorang pelopor teknologi cor logam untuk monumen, menyambung tradisi logam yg lama terputus dlm kesenian.

Dari Pak Edhi Soenarso kita belajar ada banyak media untuk menampakkan rasa cinta terhadap tanah air, ada banyak cara berkontribusi terhadap negara. Gelaran puluhan monumen dan diorama nasionalis menjadi saksinya. Mulai Monumen Selamat Datang di pusat ibukota, Monumen Tugu Muda di Semarang, sampai Monumen Yos Sudarso di Biak, Papua. Mulai diorama sejarah di Monumen Nasional Jakarta sampai diorama sejarah di Museum Tugu Pahlawan Surabaya. Melalui karya-karya monumentalnya ini, Pak Edhi Soenarso tak hanya menunjukkan betapa besar rasa cintanya terhadap tanah airnya, namun ia mengajak setiap orang yang melihatnya untuk mendapatkan pengalaman rasa yang sama.

Tak hanya dari karya Pak Edhi Soenarso, namun juga dari perjalanan hidupnya kita mendapat teladan seorang anak bangsa yang menyerahkan hidupnya untuk negaranya. Edhi Soenarso mengawali kontribusinya terhadap negara melalui perjuangan mengangkat senjata, bertaruh nyawa. Kiprahnya sebagai pasukan Samber Nyawa Divisi I, Batalyon III, dan Resimen V Siliwangi mendahului perjuangannya di ranah seni rupa. Pada usianya yang ke-14, ia sudah mencicipi dekaman penjara tentara kerajaan Belanda, KNIL, sebagai tawanan perang. Kemerdekaan Indonesia tak membuatnya berhenti berjuang, hanya berbeda medannya, walau tak kalah besar dampak kontribusinya.

Kini kita melepas Pak Edhi kembali ke Sang Maha Pencipta. Dari seluruh rangkaian hidupnya dan dari karyanya, kita dapat memaklumi sungguh layaklah gelar Empu Ageng Seni yang disandangkan, dan sungguh pantaslah kita menghargai dan meneladaninya sebagai salah satu maestro terhebat yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.

Siang ini kita semua hadir, di rumah alm Pak Edhi, mengantarkan  kepulangannya sambil mendoakan .... InsyaAllah lewat karya-karyanya yang tersebar di seluruh penjuru negeri, lewat inspirasi yang tumbuh insyaAllah akan mengalirkan pahala tanpa henti pada almarhum Pak Edhi. Amin, amin ya rabbal alamin ....


Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menghabiskan masa kecil di Gang Grompol, Jalan Kaliurang km 5, Yogyakarta.
(slm/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed