Aceh Pasca Tsunami
Kisah Kenduri di Kampung Baru
Sabtu, 05 Mar 2005 15:00 WIB
Aceh Besar - Seratusan warga Desa Kampung Baru Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar memilih kembali ke kampungnya setelah sekitar dua bulan mengungsi, Sabtu (5/3/2005). Padahal, desa yang telah porak poranda itu hanya berjarak tak lebih dari 700 meter dari bibir pantai.Kenduri kampung pun digelar untuk menyambut kepulangan mereka. Beberapa pria memasak gulai kambing di kuali besar. Para perempuan membagi-bagi nasi ke piring. Tenda untuk tempat bersantap bersama dipasang di atas puing-puing meunasah (musholla) desa mereka."Kehidupan kami di sini dekat dengan laut. Karena semua kami di sini umumnya nelayan. Jadi kami kembali ke sini. Tak mungkin kami tinggal jauh dari laut," ujar Ismail Ali (50) salah seorang warga yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan, pada detikcom, Sabtu (5/3/2005).Ali bercerita, dirinya selamat dari amukan gelombang tsunami karena melaut pada 26 Desember. Itupun dari 20 orang nelayan yang bersamanya di kapal boat mereka, tiga di antaranya hilang di laut. Pasalnya, boat mereka dihempas gelombang dan pecah. Ismail Ali terdampar di pantai Lampuuk, Aceh Besar. Untung waktu itu ada yang menolong. "Pulang ke desa, semuanya sudah hancur. Tak ada lagi orang di sini," katanya.Dari 1.004 jiwa penduduk desa tersebut, hanya 120 jiwa yang selamat. Umumnya mereka selamat karena sedang berada di luar desa. Seperti anak Ismail Ali yang kebetulan tengah pergi mengaji ke Jantho, Aceh Besar, saat itu. Hanya 5 orang saja yang berhasil selamat dari penduduk desa yang saat kejadian berada di desa tersebut. Dari jumlah keseluruhan yang selamat, umumnya kaum pria, karena mereka pergi melaut. Sisanya, 15 perempuan dan 2 orang anak-anak, termasuk anak Ismail Ali.Kampung yang terletak tak jauh dari pantai itu boleh disebut rata dengan tanah. Tak satu bangunan pun tersisa. Tidak juga mesjid desa mereka yang sangat dibanggakan warga sekitar. Ismail Ali menunjukkan bekas rumahnya yang hanya bersisa lantai semen dan beberapa undak batu-bata. Ada bendera merah putih terpancang di tengahnya."Itulah harta saya satu-satunya. Luas tanahnya 50 meter kali 50 meter. Kalau nanti saya keluar dari kampung ini bagaimana?" ujarnya. Ismail Ali dan satu anaknya yang selamat berencana akan membangun kembali rumahnya di bekas pertapakan rumah mereka. Dalam bencana 26 Desember 2004 itu, Ismail Ali kehilangan 6 anak dan isterinya.Ismail Ali tak terlalu memikirkan rencana pemerintah yang didengarnya akan memindahkan warga dari pinggir pantai. Bersama sekitar 120 orang yang masih selamat di desa itu, mereka bertekat membangun kembali desanya yang sudah porak poranda."Kita lihat nanti apa yang mau dibuat pemerintah. Tapi sekarang kita di sini dulu. Bangun apa yang bisa dibangun. Kami rencana mau buat barak di dekat mesjid itu. Jadi semacam posko kampung inilah. Biar kami ini segera melaut lagi," ungkapnya.Untuk melaut sendiri, Ismail Ali tak tahu harus mengadu ke mana. Tak satu pun nelayan di kampung itu yang masih memiliki boat. Uang untuk membeli boat pun tak ada. Untuk satu boat kecil saja menurut Ismail Ali dibutuhkan paling sedikit Rp 10 juta. Sementara, boat yang dulu sering digunakan Ismail Ali dan kawan-kawannya seharga Rp 200 juta."Tak tahulah bagaimana kami ini. Mau musyawarah dulu nanti. Mudah-mudahan bisa cepat kembali ke laut-lah. Biar bisa kerja lagi, supaya pikiran tak suntuk. Tidak ingat anak, isteri," ujarnya sedikit terisak.Menjelang siang, warga menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Harapan baru terpancar dari wajah-wajah mereka. Canda tawa mengiringi santap siang di bawah terik panas matahari. Tak ada lagi semburat trauma di sana.Selain Desa Kampung Baru, warga di Desa Lamteh, Meunasah Tuha, Lam Isak, Lam Manyang di kecamatan yang sama, juga kembali ke kampungnya dalam beberapa hari ini."Mati itu urusan Allah, di mana pun kita berada. Jadi, kami tak takut kalau orang bilang akan ada tsunami lagi. Kami hanya minta pemerintah bisa buat tanggul penahan air kalau air pasang datang," harap Ismail Ali.
(nrl/)











































