"Ya tantangan di 2015 memang adalah tahun penuh tantangan, karena persoalan konsolidasi politik, kemudian juga masih adanya dua kubu di parlemen pada waktu itu KMP dan KIH," kata Pramono di Gedung III Setneg, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (30/12/2015).
Ada pula bencana kabut asap yang menyita perhatian publik dan pemerintah selama 3-4 bulan. Bencana itu bahkan menjadi sorotan internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia angka ini menunjukkan titik terbawah tantangan ekonomi sudah dilalui. Ini merupakan buah dari 8 paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah.
Pemerintah terus membangun infrastruktur untuk penguatan ekonomi. Paradigma konsumsi yang selama ini tertanam diubah menjadi produksi.
"Jadi ini merupakan indikasi dan pada satu tahun ini setelah reshuffle kabinet pada bulan Agustus ada 8 paket kebijakan yang ternyata bisa menstabilkan ekonomi kita dan membuat Indonesia menjadi tempat investasi yang menarik di dunia usaha," kata Pramono.
Apakah dengan begink berarti reshuffle kabinet efektif untuk pemerintahan?
"Bukan karena saya ya, karena memang itu membuat kemudian kebijakan tentang paket kebijakan dimotori oleh Pak Darmin (Menko Perekonomian, -red) dan kami membantu beliau dan sebagainya," ungkap Pramono.
Darmin juga baru masuk kabinet berbarengan dengan Pramono. Dia menggantikan posisi Sofyan Djalil yang kini menjadi Menteri PPN/Kepala Bappenas.
"Masyarakat yang memberi penilaian (tentang reshuffle)," ujar Pramono. (bpn/fdn)











































