Menurut Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian (Barantan) Banun Harpini, penyelundupan satwa langka dari Indonesia ke luar negeri makin marak akhir-akhir ini. Ada 3 pintu yang paling banyak digunakan oleh para penyelundup, yaitu Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Bandara Ngurah Rai Denpasar, dan Pelabuhan Batam.
"Perdagangan ilegal untuk satwa langka sedang marak sekali. Tahun lalu luar biasa. Ada orang utan, burung, ular. Pintu-pintu rawan untuk satwa langka itu di Bandara Soetta, Denpasar, dan Pelabuhan Batam," kata Banun dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta, Rabu (30/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banun mengungkapkan, para penyelundup satwa langka menggunakan berbagai modus yang makin hari makin canggih. Untuk menyelundupkan burung, cara yang dipakai umumnya menggunakan koper besar yang sudah dimodifikasi. Di dalam koper ada paralon yang sudah dilubang-lubangi untuk sirkulasi udara, di dalam paralon tersebut burung disimpan.
"Modusnya macam-macam, makin hari cepat perubahannya. Rata-rata membawanya menggunakan koper besar kalau lewat udara. Burung dimasukan
ke paralon yang dilubang-lubangi," tuturnya.
Koper berisi burung langka itu biasanya langsung dimasukan ke pesawat kargo, tidak melalui pemeriksaan x-ray di bandara. "Kalau lewat x-ray
pasti ketahuan. Tapi koper itu kadang langsung masuk kargo pesawat. Pernah kami buru sampai Belanda," ujar Banun.
Adapun penyelundupan burung melalui pelabuhan, misalnya yang marak terjadi di Batam, burung dibawa menggunakan tas yang biasa dipakai untuk membawa ayam, lalu dibawa ke kapal penyeberangan. "Kalau dengan kapal penyeberangan, nggak pakai koper, pakai tas plastik kayak bawa
ayam, tapi ini yang dibawa burung," tutupnya. (dra/dra)










































