Bus Feeder Tak Familiar, Ahok: Kernetnya Teriak Saja Gratis, Gratis!

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Rabu, 30 Des 2015 13:33 WIB
Foto: Lamhot Aritonang (detikfoto)
Jakarta - Tidak sedikit orang yang belum mengetahui bus sedang pengumpan (feeder) yang sudah wara-wiri di Koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas atau Monas). Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) mengaku promosi PT Transportasi Jakarta soal bus itu belum maksimal.

"Ya itu menurut saya TransJakarta sederhana sekali, tinggal masukin atau teriak-teriak saja pakai kernet. Bilang gratis-gratis, tinggal ngomong atau tempelin (pengumuman) kek, apa kek," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (30/12/2015).

Ahok mengatakan seharusnya ada petugas on board atau kernet di setiap bus feeder. Akan tetapi, di bus feeder Koridor 6 sama sekali tidak ada petugasnya, sehingga banyak calon penumpang di halte yang kebingungan.

"Harusnya juga ada kernet dong. Kita kan sudah hitung dan kenapa kernet dihilangkan, harusnya ada kernetnya," ujarnya.

"Makanya saya bilang dia (Dirut PT Transportasi Jakarta ANS Kosasih) enggak ngerti manajemen bus," imbuh Ahok.

Bus feeder merupakan pengganti Kopaja AC yang telah terintegrasi dengan manajemen TransJakarta. Penumpang cukup bayar satu kali sebesar Rp 3.500 di halte busway dan halte khusus feeder (yang akan dibangun Pemprov dalam waktu dekat) melalui tapping kartu.

Selanjutnya, di dalam bus penumpang tidak perlu lagi membayar tiket di dalam bus feeder. Hal ini tentu berbeda dengan Kopaja AC sebelumnya yang penumpangnya ditarik bayaran lagi Rp 6.000 di dalam bus.

Sebelumnya, bus feeder di Koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas atau Monas) sudah beroperasi sejak Senin (28/12) lalu. Namun rupanya sebagian calon penumpang tidak tahu soal bus feeder dan mengiranya sama dengan bus APTB.

Cukup banyak calon penumpang di halte-halte busway yang terlihat bingung saat melihat bus feeder berhenti membuka pintu tengahnya. Mereka bahkan tidak jarang malah bertanya-tanya baik ke petugas halte maupun sesama penumpang.

"Itu bus apaan? Eh kok TransJakartanya lebih kecil ya ukurannya?" kata seorang penumpang bernama Aulia kepada detikcom di Halte Sarinah, Selasa (29/12).

Saat dijelaskan bahwa itu bus feeder yang menggantikan Kopaja AC 602 yang sebelumnya melintas di halte tersebut, perempuan berkacamata tersebut pun tampak cukup kaget. "Oh jadi itu ke Ragunan ya? Enggak perlu bayar (Rp 6.000) lagi di dalam ya?" tanyanya lagi.

Dia mengaku beberapa kali memang melihat bus itu wara-wiri, namun tidak pernah naik karena dikira bus APTB dan dipungut biaya lagi di dalamnya. Menurutnya, promosi pengintegrasian Kopaja AC dan PT Transportasi Jakarta menjadi feeder kurang gencar.

"Promosinya kurang kedengaran. Saya saja baru tahu dari mbak kalau itu gantinya Kopaja AC. Soalnya dari warna juga agak nyaru ya sama bus APTB yang ke Tanah Abang itu, biru muda gitu kan cuma yang ini lebih kecil saja," kata perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan swasta itu.

"Kirain APTB tuh," sambungnya.

Selain itu, bus feeder tidak dilengkapi dengan pengumuman pemberhentian halte melalui pengeras suara. Sehingga tidak jarang orang yang baru pertama kali naik bus sedang itu jadi kebingungan. Apalagi kalau rute busnya tidak familiar.

Sementara, Dirut PT TransJ ANS Kosasi menyebut pihaknya akan lebih gencar mempromosikan bus feeder. Salah satunya melalui pemasangan poster di halte-halte busway.

"Kami akan umumkan pakai poster," kata Kosasih saat berbincang dengan detikcom, Selasa (29/12) malam. (aws/miq)