Melacak Jejak Kota Dewata yang Terkubur di Dataran Tinggi Dieng

Melacak Jejak Kota Dewata yang Terkubur di Dataran Tinggi Dieng

Salmah Muslimah - detikNews
Rabu, 30 Des 2015 09:44 WIB
Melacak Jejak Kota Dewata yang Terkubur di Dataran Tinggi Dieng
Foto: istimewa.MARI
Jakarta - Anda pernah main ke dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jateng? Lokasi wisata itu ternyata menyimpan sejarah panjang. Arkeolog menemukan banyak candi terkubur di sana. Diperkirakan, dahulu di masa abad 7-8 masehi, Dieng ditasbihkan sebagai Kota Dewata.

"Candi-candi di sekeliling gunung ini sepertinya dibangun dengan konsep Sudarsana atau Kota Dewata. Para dewa sepertinya dihadirkan di sini," jelas Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) Ali Akbar, Rabu (30/12/2015).

Tim dari MARI melacak jejak arkeologi di Dieng pada 25-27 Desember. Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah merupakan wilayah dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan air laut. Di dataran seluas sekitar 2 x 1 kilometer tersebut terdapat beberapa kompleks candi peninggalan abad ke 7-8 Masehi. Reruntuhan candi di dataran ini mulai ditemukan kembali pada tahun 1814.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dataran Tinggi Dieng sebenarnya merupakan kaldera atau kawah gunung api yang sangat besar. Bagian pinggirannya seperti melingkar atau bagian tepinya saat ini berupa gunung-gunung yang mengelilingi. Di bagian tengah yang lebih rendah dan relatif datar itulah saat ini wisatawan dapat menyaksikan kompleks Candi Arjuna, Gatutkaca, Dwarawati, dan lainnya," jelas dia.

Menurut Ali, Dieng secara asal kata kemungkinan berasal dari kata Hyang yang artinya Dewa. Sehingga daerah ini sering disebut tempat berkumpulnya para dewa. Candi-candi di Dieng merupakan candi Hindu. Diduga kuat masih banyak lagi candi terkubur di kawasan Kota Dewata ini.

Ali juga menjelaskan, hasil kegiatan Lacak Artefak di Dataran Tinggi Dieng menemukan cukup banyak sisa-sisa struktur candi di gunung-gunung yang mengelilingi dataran tinggi tersebut. Kegiatan lacak artefak itu kerja sama antara Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) dan Yayasan Taman Syailendra diikuti para warga setempat.

Ali mendapatkan informasi dari Ketua Yayasan Taman Syailendra, Diqda Subagyo, para warga memiliki kepedulian untuk melestarikan dan telah dilatih oleh Jajang Agus Sonjaya dari Studio Aksi Pelestarian Arsitektur dan Kawasan Arkeologis (STAPAKA). Seluruh temuan tersebut dihasilkan oleh warga setempat yang sebagian berprofesi sebagai petani.

"Di gunung-gunung atau bukit-bukit yang mengelilingi Dataran Tinggi Dieng ditemukan banyak sisa struktur candi seperti pondasi, pipi tangga, dinding bangunan, pancuran air, dan arca serta masih banyak temuan lainnya. Candi-candi di sekeliling gunung ini sepertinya dibangun dengan konsep Sudarsana atau Kota Dewata," jelas dia.

"Para dewa sepertinya dihadirkan di sini. Konsep Astadikpalaka atau para dewa penjaga arah mata angin diwujudkan dengan menempatkan candi di berbagai arah mata angin. Singkatnya, candi-candi yang terlihat saat ini sebenarnya masih merupakan sebagian kecil dari kompleks besar yang dulu pernah dibangun nenek moyang bangsa Indonesia," tambahnya lagi.

Rencananya, sambung Ali, usai musim hujan, yakni sekitar bulan Maret-April 2016 akan dilakukan ekskavasi arkeologi untuk memunculkan kembali candi-candi di Kota Dewata. (dra/dra)


Berita Terkait