detikNews
Rabu 30 Desember 2015, 05:00 WIB

Sambangi Mensos Khofifah, Muhammadiyah Berharap Sinergi di Bidang Sosial

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Sambangi Mensos Khofifah, Muhammadiyah Berharap Sinergi di Bidang Sosial Muktamar Muhammadiyah (Foto: Ahmad Toriq/detikcom)
Jakarta - Usai muktamar di Makassar, PP Muhammadiyah telah membentuk Majelis Pelayanan Sosial (MPS) yang bergerak dalam bidang sosial. Hasil pertemuan itu menyepakati sinergi dengan Kementerian Sosial.

Kunjungan MPS sendiri dilakukan ketuanya yakni Sularno bersama jajaran lainnya. Dalam pertemuan itu MPS berharap adanya sinergitas antara lembaga pemerintahan dengan pihaknya.

"Kami ingin mensosialisasikan dan mensinergikan program-program MPS dengan kementerian sosial," ujar Ketua Majelis Pelayanan Sosial, Sularno, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (30/12/2015).

Salah satu program yang diusulkan antara lain dengan mendukung pelatihan relawan nasional, hingga pembangunan lansia center.

"Relawan sosial yang akan kami kembangkan akan menjadi program utama kami, itu kami akan serahkan programnya sebagai penjelasan, kemudian adanya pelatihan keterampilan anak panti dalam menghadapi era MEA 2015. Selain itu kami juga ingin membangun ekonomi produktif di panti-panti sebagaimana yang sudah ada di Bojonegoro," paparnya.

Permasalahan lain yang juga menjadi pembahasan dalam pertemuan itu adalah project shelter lansia di kota-kota besar. Program ini tak dimaksud untuk memutuskan hubungan tali keluarga.

"Namun berangkat dari rasa prihatin banyaknya lansia yang tak terurus oleh keluarganya. Selain itu masalah pembuatan data base, kami membutuhkan update jumlah panti yang Indonesia, sejauh ini ada 700 sampai 1000 data, hal ini menjadi penting," paparnya.

Sementara dalam pertemuan itu, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menerima semua masukan dan usulan yang diberikan MPS. Baginya beberapa poin yang diusulkan itu masih masuk dalam kerja pemerintahan saat ini.

"Apa yang bisa kita sinergikan. Misal shelter lansia, ini kebutuhan yang suka atau tidak suka, memangĀ  usia harapan hidup makin tinggi, lansianya makin banyak, diantara lansia yang makin banyak itu memang catatan dari Kementerian Sosial ada sekitar 2,6 juta yang terlantar," kata Khofifah.

Dia mengatakan pemerintah saat ini telah melakukan hal itu. Hanya saja belum ditemukan formula yang cocok.

"Nah dari 2,6 juta berapa banyak sebenarnya kita masing-masing bisa berbagi untuk melayani mereka. Apakah misalnya Day Care atau mungkin berbasis pesantren atau mungkin panti lansia, mana yang bisa kita siapkan, kita siapkan. Kira-kira 3 minggu yang lalu, bahkan kepala BKPM mengundang investor asing untuk berinvestasi di bidang layanan lansia. Saya sempat agak kaget, ternyata memang banyak lansia-lansia, dia sangat kaya raya dan membutuhkan teman untuk saling berbagi cerita, begitu. Saya belum nengok tetapi saya mendengar sangat mahal. Ada di Karawang, Cikarang, di daerah Tigaraksa, Kapuk," paparnya.

Dia mengatakan jelang akhir tahun masukan dan saran yang diberikan MPS jadi perhatian dirinya. Dia berharap tentunya institusi melakukan pemenuhan dalam penuntasan masalah sosial.

"Ini mungkin catatan akhir tahun kita, kita update data kita masing-masing. Supaya hak-hak mereka semaksimal mungkin bisa kita ikhtiarkan untuk bisa memenuhi. Saya menyampaikan terima kasih sekali, akhir tahun kita masih bersama-sama melakukan muhasabah, ini kan proses refleksi kita bersama. Bermuhasabah supaya kita tetap bisa bersama-sama ikhtiar meningkatkan seluruh layanan-layanan yang kita lakukan," pungkasnya.
(edo/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed