Namun yang dijadikan contoh oleh Jokowi ketika itu adalah Menteri Agraria. Jokowi mengatakan apabila pembebasan lahan tak bisa dipenuhi dalam kurun waktu yang ditentukan, maka Menteri Agraria bisa diganti.
"Presiden tak bermaksud begitu," tanggap Menteri Agraria Ferry Mursyidan Baldan di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (29/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi sebetulnya Presiden tidak keberatan. Yang susah itu kan yang merasa jadi Presiden, itu yang bikin memberatkan orang lain," imbuh Ferry.
Saat memberikan sambutan dalam silaturahim dengan para kepala desa dan perangkat desa di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Sabtu (26/12/2015), Presiden Jokowi, menyampaikan berbagai kebijakan pemerintahannya yang dinilainya menunjukkan keberpihakan pada pembangunan desa dan kawasan pedalaman.
Salah satu yang disebutnya adalah pembangunan jalan yang menghubungkan langsung Wamena-Merauke. Meskipun mengalami berbagai kendala, Jokowi menjanjikan pembangunan jalan tersebut akan selesai pada tahun 2016 mendatang. Jika jalan tersebut sudah bisa dioperasikan, presiden yakin pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut akan lebih terakselerasi.
"Saya selalu memantau pembangunan-pembangunan infrastruktur di daerah karena ini sangat penting. Jika saya monitor penggarapan jalan terasa lambat, saya langsung tanya mengapa lambat. Dijawab ada masalah pembebasan tanah, saya langsung telepon Menteri Agraria agar segera menyelesaikan persoalan itu. Saya beri waktu 1,5 bulan, kalau belum juga dikerjakan maka saya beri rapor merah. Itu yang nanti kena reshuffle. Begitu cara saya bekerja," papar Jokowi. (bpn/tor)











































