Bupati Dedi Bicara soal Upaya Lolos dari Sweeping Massa di TIM Semalam

Tri Ispranoto - detikNews
Selasa, 29 Des 2015 11:37 WIB
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Purwakarta - Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, urung menerima penghargaan secara langsung dari Federasi Teater Indonesia (FTI) ke-10 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (28/12/2015) malam. Dia mengaku lolos dari sweeping massa, namun tidak naik panggung.

Ditemui detikcom di kantornya, Selasa (29/12/2015), Dedi bercerita awalnya dia sudah menerima kabar bahwa sejumlah massa dari Front Pembela Islam (FPI) telah mengepung TIM sejak siang. Namun, demi menghormati undangan, Dedi memilih tetap datang.

"Saya datang ke sana pakai ojeg. Pakaian tetap seperti ini (putih-putih), cuma karena pakai motor saya pakai helm sama jaket," jelas Dedi di Pendopo Purwakarta.

Dedi mengaku masuk ke lokasi hanya berdua dengan tukang ojeg. Meski massa telah berkumpul, namun Dedi berhasil masuk secara mulus melewati massa yang datang dengan spanduk penolakan terhadap Dedi.

Di dalam lokasi Dedi pun sempat bertemu dengan pihak panitia penyelenggara. Dalam pertemuan tersebut Dedi memutuskan langsung meninggalkan lokasi tanpa naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan.

"Sebagai bupati dan tamu undangan saya menghormati keamanan di Jakarta dan pilih untuk tinggalkan TIM. Ini sebagai bentuk rasa hormat saya pada Pak Ahok dan Pak Kapolda," tuturnya.


Selain itu Dedi menilai jika dia tetap memaksakan diri untuk naik ke atas panggung maka bukan tidak mungkin massa akan bertindak hal-hal yang tidak diinginkan seperti kerusuhan atau pun perusakan fasilitas di TIM.

"Bagi saya ini bukan permusuhan tapi hanya perbedaan pendapat yang harus disikapi secara arif dan bijaksana," tutup Dedi.

Kehadiran Dedi disampaikan penanggung jawab FTI X Radhar Panca Dahana. Radhar menjelaskan, 2 tokoh yang mendapat penghargaan, Akhudiat (pejuang religius teater Indonesia) dan Dedi Mulyadi (budayawan yang pemimpin), tidak bisa menerima penghargaan secara langsung. Akhudiat, menurut Radhar, tidak bisa menerima penghargaan secara langsung karena masalah kesehatan yang menurun, sedangkan Dedi tidak bisa menerima penghargaan secara langsung karena masalah keamanan.

"Sebenarnya Pak Dedi Mulyadi sudah berada di ruangan di TIM ini. Namun sekonyong-konyong TNI dan Polri masuk ke dalam ruangan Pak Dedi Mulyadi. Kemudian mereka bertiga ngobrol gak tahu ngobrolin apa. Tapi tiba-tiba setelah itu Pak Dedi Mulyadi menghilang. Saya dengan Mas Sys NS sempat mencari namun ternyata tak ketemu," jelas Radhar panjang lebar.

Penghargaan itu tetap berlangsung. Acaranya lancar. Rombongan dari Pemkab Purwakarta harus memarkirkan bus di sebuah tempat yang cukup jauh dari TIM. Mereka selanjutnya melanjutkan perjalanan secara terpisah menggunakan taksi menuju TIM.

(try/try)