Seperti yang detikcom lihat di sekitar Halte Warung Jati, Selasa (29/12/2015). Bus yang masih berwarna abu-abu hijau itu terlihat masih menaikkan dan menurunkan penumpang sembarangan di sepanjang jalur busway.
Di mana, sang kernet berseragam hijau tua tak jarang ikut turun menaikkan penumpang lewat pintu depan atau belakang bus saat di luar halte. Hal ini tentu berbeda dengan bus feeder yang telah terintegrasi TransJakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau memiliki ukuran bus yang sama, namun tidak ada kernet dalam bus feeder ini. Baik sepi ataupun ramai penumpang, sang sopir tetap berhenti di halte-halte TransJakarta atau feeder luar jalur.
Sehingga tak ada lagi cerita bus feeder ngetem. Sebab kini sopir bus feeder dibayar oleh PT Transportasi Jakarta melalui skema rupiah per kilometer (Rp/Km). Dengan begitu, para sopir setiap bulannya akan menerima gaji sebesar dua kali lebih besar dari UMP.
Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) mengakui memang belum semua bus Kopaja AC ataupun Kopaja umum terintegrasi dalam manajemen PT Transportasi Jakarta. Ahok mengatakan, PT Kopaja meminta waktu hingga akhir 2016 mendatang.
"Metromini katanya akan siapkan, kita tunggu saja. Kalau Kopaja janji sama saya minta waktu sampai akhir 2016. Saya bilang, saya tidak mau lihat lagi mobil-mobil jelek Anda," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (28/12).
Ahok akan menanti janji Kopaja untuk dapat menyiapkan segala macam dokumen agar dapat terintegrasi segera dengan TransJakarta. Dia berharap tahun depan, janji itu bisa terealisasi.
"Makanya dia (Kopaja) janji mau minta waktu setahun, ya sudahlah kita kasih," tutup Ahok. (aws/dra)











































