BBM Naik, Nelayan Padang Terancam Tak Melaut
Sabtu, 05 Mar 2005 10:50 WIB
Padang - Ribuan nelayan di kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) terancam tidak dapat melaut menyusul naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Untuk sekali melaut biasanya mereka menghabiskan Rp 1,2 juta untuk membeli solar. Namun, setelah harga BBM naik, setidaknya mereka harus menyediakan Rp 1,8 juta hanya untuk keperluan bahan bakar kapal tersebut.Mardenis, salah seorang pemilik bagan (kapal ikan) mengatakan, tingginya harga solar membuat ia terpaksa menyandarkan kapal ikannya. "Hitung-hitungannya nggak masuk. Biaya operasional tambah tinggi sementara hasil tangkapan sudah beberapa bulan belakangan selalu turun. Daripada rugi, lebih baik kami tidak melaut," ujarnya ketika ditemui detikcom di pantai Muaro Padang, Sabtu (5/3/2005),Dikatakan Mardenis, kenaikan harga BBM membuat para pemilik kapal menjadi serba salah. Bila dipaksakan melaut, kemungkinan rugi sangat besar. Namun, bila kapal tetap tidak dijalankan maka puluhan dapur nelayan yang bekerja padanya terancam tidak ngepul. Sampai sekarang mereka terpaksa nganggur dulu. "Ada ribuan nelayan di Padang yang bergantung pada kapal-kapal ini," ujarnya.Mardenis mengatakan, untuk sekali pergi menangkap ikan, para nelayan biasanya menghabiskan waktu sekitar 15 hari sampai 20 hari di laut. Para pemilik kapal berkewajiban menanggung seluruh biaya operasional, termasuk kebutuhan nelayan selama berada di laut seperti makanan, obat-obatan dan rokok. Berkurangnya hasil tangkapan diperkirakan masih akan berlangsung sampai bulan Mei mendatang. "Boleh dikatakan, beberapa waktu belakangan kami selalu nombok," terangnya.Lebih lanjut, Mardenis mengatakan, kenaikan harga BBM juga memicu naiknya harga es balok yang dibutuhkan untuk mengawetkan ikan. "Sebelumnya harga es balok cuma Rp 12 ribu. Sekarang harganya sudah Rp 13 ribu sampai 14 ribu perbatang," demikian Mardenis.
(nrl/)











































