"Presentase lulusan perguruan tinggi yang bisa langsung bekerja targetnya adalah 50 persen, tapi kita bisa mencapai 60 persen. Demi mencapai Economic ASEAN Community ini tahun depan kita harus bekerja keras," ujar Menristekdikti, M Nasir kepada wartawan dalam acara evaluasi akhir tahun kinerja Kemenristekdikti 2015 di Gedung Kemenristek Dikti, Senayan, Jakarta, Senin (28/12/2015).
Menurutnya hal tersebut tercapai berkat program peningkatan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan tinggi tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi tahun 2015 telah mencapai 34,42 persen, melebihi target yang hanya 27 persen. 75 persen lulusannya memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 2,75.
"Luar biasa capaian ini. Di tahun berikutnya kami harap perguruan tinggi harus meningkatkan kapasitasnya," jelas M Nasir.
Dari sisi tenaga pengajar, tahun 2015 jumlah dosen lulusan S2 dan S3 mencapai 75 persen, dengan jumlah professor mencapai 5.500 orang. Sementara itu jumlah peneliti di Indonesia adalah 550 per satu juta orang penduduk.
"Karya mereka sudah tersebar secara internasional. Menurut Scopus Index, jumlah terbitan peneliti Indonesia mencapai lebih dari 550 judul dan 45 persen di antaranya ditulis melalui kolaborasi dengan peneliti asing," kata Nasir.
Saat ini Kemenristekdikti telah memiliki Rencana Induk Riset Nasional yang akan mengarahkan para peneliti dan dosen untuk melakukan riset dan menghasilkan inovasi bermutu.
Inovasi tersebut diutamakan pada 11 bidang riset prioritas, yakni pertanian dan pangan, energi, energi baru dan energi terbarukan, obat dan kesehatan, informasi dan komunikasi, transportasi, pertahanan dan keamanan, advance material (nanoteknologi), maritim, kebencanaan, serta sosial humaniora.
(rni/nwk)











































