Bagus yang dua tahun terakhir tinggal di jalanan ini pada awalnya ditemukan oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, yang tengah menggelar safari budaya. Saat itu dalam kondisi sempoyongan Bagus diajak naik ke panggung dan menjawab pertanyaan namun sama sekali tidak nyambung.
"Akhirnya saya simpulkan bahwa anak ini bermasalah dan butuh penanganan. Akhirnya saya bawa ke Pesantren Riyadul Muta'allimin ini," ucap Dedi saat mengisahkan awal pertemuannya dengan Bagus, Senin (28/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Selama dua minggu tinggal di pesantren yang berada di Kampung Mekarjaya, Desa Cijaya, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Purwakarta, Bagus belajar untuk berhenti dari kecanduan mengkonsumsi zat memabukkan.
Setiap harinya Bagus diberi bimbingan Iman seperti solat, dzikir, juga ilmu hukum agama Islam. Selaian itu untuk menghilangkan kecanduan pihak pesantren memberikan terapi pijat untuk membalikan kondisi semula Bagus.
"Ke depan kita akan bangun tempat ini menjadi lebih besar agar bisa lebih banyak menampung anak-anak seperti bagus. Kita juga akan bangun SMK sebagai sarana anak-anak mendapatkan keahlian," katanya.
Sementara itu pimpinan pesantren, KH Endang Abdul Somad, menjelaskan, dalam penanganan anak seperti Bagus dibutuhkan sekira waktu minimal enam bulan untuk mengembalikan kondisi tubuhnya menjadi normal kembali.
"Selama enam bulan itu mereka kita bimbing terutama untuk mengembalikan ke tahap normal. Setelahnya kita beri arahan agar mereka bisa menata masa depan mereka selanjutnya," ucapnya.
Di tempat yang sama, Bagus yang baru kali pertama dijenguk selama dua minggu ini langsung menangis saat melihat kedatangan Dedi. Sambil terus mengucurkan air mata, Bagus pun memeluk Dedi dan terus mengucapkan rasa terima kasihnya karena terbebas dari dunia jalanan.
![]() |
Menurut Bagus, selama ini dia adalah anak yang dikucilkan oleh keluarganya. Hingga akhirnya dua tahun lalu dia memutuskan untuk hidup di jalanan. Selama itu dia selalu mendapat tekanan dari para preman untuk mengkonsumsi obat-obatan terlarang, minuman keras, juga menghirup lem.
"Hatur nuhun Pak tos dicandak kadie (terima kasih Pak, saya sudah dibawa ke sini)," tutur Bagus sembari melafalkan doa seperti yang dipelajarinya selama ini di Pesantren.
Saat ini Bagus masih dalam tahap pemulihan kondisi fisik dan mental. Bagus yang awalnya terganggu dalam bicara juga berpikir akibat kecanduan zat memabukan, berangsur normal. Bahkan tidak hanya berdoa, kini abg yangย bertubuh kurus itu pun sudah bisa bercanda dan mengundang gelak tawa orang lain.
Pesantren tempat Bagus dididik memiliki 100 anak laki-laki bermasalah. Mereka bukan hanya pecandu, namun beberapa di antaranya adalah anak nakal yang tak mampu lagi ditanggulangi orang tua juga anak-anak yang berkebutuhan khusus.
(try/try)













































