Uang yang dikembalikan mungkin kecil Rp 9 ribu, tapi langkah kecilnya itu menjadi contoh besar. Kejujuran adalah hal yang penting.
Nurjo menuturkan peristiwa pengembalian uang itu terjadi pada Jumat (25/12) pagi. Saat itu ada seorang remaja yang membeli pesanan makanan lewat Go-Jek. Nah, total uang yang dibelanjakan Rp 40.700 plus ongkos Go-Jek Rp 10 ribu. Total biaya Rp 50.700.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nurjo memberikan uang itu. Tak lama, setelah beberapa saat pergi dia merasa ada yang janggal. Dia lokasi dia nongkrong menunggu penumpang, dia menghitung lagi dan ternyata kurang Rp 9 ribu.
"Saya kembali lagi ke Bintaro sektor 9, ke rumah anak itu. Tapi anaknya nggak ada, ya udah saya titip ke satpam sama hitungan makanannya," terang pria yang juga menjadi satpam di perumahan ini.
Nurjo mengaku, kemudian dia pamit pergi dan tak lama, entah dari mana tahunya ada wartawan meneleponnya menanyakan soal kejujurannya.
![]() |
"Saya nggak tahu itu bagaimana bisa pada tahu. Saya cuma merasa kalau uang itu bukan hak saya," ujar ayah dari tiga anak ini. Daftar hitung-hitungan Nurjo memang menyebar di media sosial.
Sebagai seorang tukang ojek, dia merasa hal yang dilakukannya adalah hal biasa. Bagi dia, demikian juga yang ditularkan ke anak-anaknya, kejujuran adalah bekal hidup.
"Alhamdulillah, saya berusaha jujur dulu. Apapun dalam hidup, orang jangan merasa dirugikan oleh kita," tutup pria berusia 38 tahun yang juga hobi panjat gunung ini. (dra/dra)












































