11 Tahun Tsunami Aceh

Cerita Ridwan Kamil Desain Museum Tsunami Aceh dengan Tumpahan Air Mata

Agus Setyadi - detikNews
Sabtu, 26 Des 2015 15:47 WIB
Foto: Agus Setyadi/detikcom
Banda Aceh - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengunjungi Aceh untuk memperingati 11 tahun tsunami. Kunjungannya kali ini menjadi momen untuk bernostalgia dengan 'Museum Tsunami' yang didesainnya beberapa tahun lalu.

Museum tsunami terletak tak jauh dari Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Sekilas bentuknya seperti perahu lengkap dengan cerobong asapnya. Dinding bagai anyaman bambu. Namun saat masuk ke dalam, bangunan tersebut mempunyai konsep seperti rumah tradisional Aceh lengkap dengan tiang-tiang kokoh yang menjadi penopang.

Bangunan museum tsunami kini menjadi landmark kedua kota Banda Aceh setelah Masjid Raya Baiturrahman. Museum ini dibangun untuk mengenang tsunami yang menghancurkan Aceh 26 Desember 2004 silam. Peresmian museum tsunami dilakukan pertengahan 2009 silam.

Museum Tsunami Aceh (Agus Setyadi/detikcom)

Tidak mudah bagi Ridwan Kamil untuk mendesain museum tsunami. Membuat konsep yang menjadi pengingat bagi banyak orang tidak segampang yang dibayangkan. Ia juga menggambarnya sambil meneteskan air mata.

"Proyek paling sulit adalah mendesain museum tsunami. Saya mendesain museum ini sebagai tempat pengingat tsunami. Saya banyak menumpahkan air mata saat mendesainnya," kata pria yang akrab disapa Kang Emil di AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, Sabtu (26/12/2015).

Museum Tsunami Aceh (Foto: Dikhy Sasra)

Ridwan Kamil menjadi pembicara dalam seminar nasional bertema "Pembangunan Berkelanjutan dalam Rangka Peringatan Tsunami". Selain dia, ada Walikota Bogor Bima Arya, Walikota Banda Aceh, Illiza Saduddin Djamal dan Rektor  Unsyiah Prof Samsul Rizal yang jadi pembicara.

Bagi Kang Emil, mendesain museum tsunami mempunyai tantangan tersendiri. Ia butuh waktu lama untuk membuat gambar bangunan tersebut. Padahal sebelumnya ia sudah banyak mendesain berbagai bangunan seperti rumah, sungai dan museum.  

Menurutnya, museum tsunami didesain dengan konsep agar setelah selesai menjadi tempat mengingat dan mendidik. Untuk mengingat, di bagian  bawah ia buat lorong yang kiri kanannya mengalir air. Sedangkan untuk mendidik, ia buat ruangan yang berisi edukasi di bagian atas.

"Saya bikin di atas (atap) bisa jadi tempat evakuasi tsunami," jelasnya.

(Foto: Agus Setyadi/detikcom)

Ridwan Kamil mengungkapkan, ada dua bangunan hasil desainnya yang memiliki nilai luar biasa. Kedua bangunan tersebut memiliki emosional dalam hidupnya.

"Keduanya adalah satu masjid di Bandung dan museum tsunami di Aceh," ungkap Ridwan.

Ridwan Kamil tak hanya mendesain museum tsunami. Ia juga membawa batu-batu kecil yang diperoleh dari warga Sunda untuk mempercantik bangunan hasil desainnya.

Nama-nama korban ditulis di dinding museum (Foto: Agus Setyadi/detikcom)

Setelah 11 tahun tsunami memporak-porandakan Aceh, Ridwan Kamil kembali mengunjungi serambi Mekkah. Ini memang bukan pertama kali ia menginjakkan kaki di provinsi ujung paling barat Indonesia. Dalam kunjungan kali ini, ia membawa serta anak, istri, ibu kandung dan ibu mertua.

"Saya terakhir ke Banda Aceh lima tahun lalu. Aceh bagi saya adalah rumah kedua. Makanya hari ini saya datang bawa satu kafilah," katanya. (try/try)