Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh, Miftah Cut Adek, mengatakan, imbauan untuk seluruh nelayan sudah disampaikan jauh-jauh hari agar mereka tidak melaut. Imbauan ini sudah pernah berlaku sejak beberapa tahun lalu.
"Nelayan kali ini tidak boleh melaut selama dua hari. Satu hari untuk memperingati tsunami dan satu hari lagi karena hari ini hari Jumat," kata Miftah saat dihubungi dari Banda Aceh, Jumat (25/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imbauan agar tidak melaut ini, kata Miftah, sudah disampaikan kepada seluruh nelayan melalui panglima laot di daerah-daerah. Selama libur, mereka diminta untuk berdoa dan menyiapkan berbagai peralatan kapal.
"Malamnya kami harap mereka berdoa. Mereka baru kembali melaut tanggal 26 Desember sore," jelasnya.
Di Aceh, hari pantang melaut bagi nelayan yaitu lebaran Idul Adha dan Idul Fitri masing-masing tiga hari, hari Jumat, peringatan tsunami, 17 Agustus dan khanduri laut. Untuk khanduri laut, hanya libur bagi nelayan di daerah yang menyelenggarakannya. Β
Seperti diketahui, saat tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004 silam, 80 ribu nelayan dan keluarganya menjadi korban. Selain itu, sebagian besar peralatan untuk menangkap ikan dan fasilitas pelabuhan lainnya hancur.
Setelah 11 tahun, jumlah nelayan di Aceh kini sebanyak 65 ribu orang. Mereka tersebar diseluruh provinsi paling ujung barat Indonesia ini.
(dnu/dnu)











































