Ribuan warga berdesakan untuk bisa mendapatkan uang recehan Rp 500-Rp 1.000. Saat Sultan menyebarkan uang, banyak warga yang menangkap uang dengan menggunakan baju yang dikenakan. Warga meyakini, uang logam yang disebar Raja Keraton Yogyakarta ini membawa berkah.
Sultan membagikan uang di tradisi udik-udik (Edzan/detikcom) |
Salah seorang warga, Ngatiyem(55), mengaku susah payah untuk mendapatkan uang logam Rp 1.000 yang disebar Sultan tersebut. Ia tak peduli meski berdesakan, terinjak dan hampir jatuh. Ia sangat bersyukur bisa memperoleh satu keping uang logam Rp 1.000 karena banyak warga lain yang tidak bisa mendapatkan.
"Kajenge paringi sehat, ayem, rejeki lancar. Niki arto kulo simpen, mboten nggo tumbas(agar mendapatkan kesehatan, rasa tentram, dan lancar rezeki. Uang ini disimpan tidak untuk digunakan)," kata Ngatiyem di halaman Masjid Besar Kauman Yogyakarta.
Ngatiyem menunjukkan uang koin Rp 1.000 yang didapatkannya (Edzan/detikcom) |
Setelah tradisi Udik-udik dan pengajian Maulid Nabi SAW kemudian dilaksanakan ritual Kundur Gongso. Kundur Gongso yakni dikembalikanya gamelan pusaka Keraton Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga ke Keraton Yogyakarta. Dua gamelan pusaka tersebut selama 7 hari dibunyikan di masjid Besar sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad.âŦ (hri/hri)












































Sultan membagikan uang di tradisi udik-udik (Edzan/detikcom)
Ngatiyem menunjukkan uang koin Rp 1.000 yang didapatkannya (Edzan/detikcom)