Cara Budayawan Beri Masukan untuk Presiden Jokowi

Cara Budayawan Beri Masukan untuk Presiden Jokowi

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Rabu, 23 Des 2015 07:06 WIB
Cara Budayawan Beri Masukan untuk Presiden Jokowi
Foto: Presiden Jokowi (dok Setpres)
Jakarta - Siang itu Presiden Joko Widodo mengundang belasan budayawan untuk makan bersama. Datanglah kemudian orang-orang yang wajahnya tak asing lagi dan nama-nama tenar lainnya.

Mereka berbaju dan kain batik rapi, tetapi dengan tatanan rambut yang beragam, dan tak menampakkan keglamoran. Butet Kertaraharja ketika datang di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (22/12/2015) langsung menyapa akrab pewarta seraya berseloroh, "midhun no aku, wingi (diundang) pelawak saiki budayawan," atau dalam bahasa Indonesia, "turun dong saya, kemarin (diundang) sebagai pelawak sekarang sebagai budayawan," dan disambut tawa yang mendengarnya.

Butet memang sebelumnya diundang makan malam bersama di Istana sebagai pelawak pada Rabu (16/12). Ketika itu bertepatan dengan pengunduran diri Setya Novanto dari jabatan Ketua DPR.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu per satu mereka dipersilakan duduk di tempat yang sudah disediakan. Sembari menanti Presiden Jokowi yang baru saja menerima tamu, mereka berbincang-bincang.

Tiba di ruangan perjamuan itu, Jokowi langsung menyalami mereka satu per satu. Setelah itu Jokowi duduk di tengah, bersebelahan dengan Franz Magnis-Suseno.

Romo Magnis dipersilakan menyampaikan prolog sebelum makan. Tetapi apa yang dia sampaikan kurang terdengar karena tak memakai pengeras suara. Setelah itu makan siang pun dimulai dan suasana berlangsung cair.

"Jadi tadi sambil makan siang kami bersepakat bahwa pembangunan mulai dari hari ini kalau bisa, dia dilandasi oleh pemahaman komprehensi dan hal-hal yang sangat penting dalam kebudayaan. Yaitu norma, nilai-nilai moralitas, etika dan lain-lain. Ya mudah-mudahan kita bisa bekerja sama," ujar budayawan Radhar Panca Dahana usai makan siang.

Bisa dibilang, para budayawan resah karena selama ini pembangunan di Indonesia seakan menjadikan politik sebagai panglima. Sementara nilai-nilai budaya bangsa dikesampingkan, kata sastrawan tersebut.

"Tadi juga didiskusikan ada upaya-upaya dari kelompok masyarakat yang bersikap anti kebudayaan dan timbulkan ketakutan-ketakutan pengembangan budaya nasional. Jadi kita sampaikan bahwa persoalan ini harus ditangani pemerintah supaya bisa mengantisipasi  kelompok-kelompok yang anti toleran yang ingin membonsai kebudayaan kita," ungkap budayawan Haidar Bagir kemudian.

Budayawan Muhammad Sobari lalu menambahkan mengenai revolusi mental yang semestinya berlandaskan budaya. Sebetulnya yang paling utama adalah untuk merevolusi mental birokrat.

Kemudian ada lagi seniman Sys NS yang mengkritik sikap Jokowi dalam mengambil keputusan. Dalam beberapa momen terlihat seakan Jokowi dinilai lama mengambil keputusan.

"Baru ketika kemarin ada Go-jek Go-jek itu, dia cepat tanggap. Walau pun telat beberapa jam, sih. Tapi masyarakat butuhnya yang seperti itu," kata Sys.

Setelah itu Franz Magnis sedikit menyanggah dan meminta agar yang disampaikan sesuai dengan pembicaraan bersama Presiden saja. Hal-hal yang bersifat opini sebaiknya dikesampingkan dahulu.

"Saya lihat dengan mata saya sendiri, seorang Presiden sedang analisa. Dia tahu permasalahannya, dia tahu problemnya, dia katakan juga dia harus hati-hati untuk menetapkan kebijakan.

Ketika dia bisa menganalisa tadi dia akan mengundang lagi untuk membahas lebih konkret. Satu yang bahagiakan saya adalah dia katakan, 'saya bebas dari kepentingan'. Itu modal utama bagi saya," tutur musisi Yockie Suryo Prayogo.

Para budayawan yang hadir itu berasal dari berbagai bidang. Hadir pula Nungky Kusumastuti (aktris, seniman tari), Nasirun (pelukis), dan Tisna Sanjaya (pelukis). (bpn/fdn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini