Menurut Basarah, sebagai partai Islam, PKS ingin membangun komunikasi dengan pihak manapun termasuk pemerintah.
"Pertama silaturahmi yang dibangun PKS dengan Presiden Jokowi adalah sesuatu yang lumrah-lumrah saja. Karena sebagai partai Islam, PKS kan mengembangkan tali silaturahim, ukhuwah islamiyah, fathaniyah, saudara keislaman, dan kebangsaan," ujar Basarah di sela acara Haul ke-6 Gus Dur di kantor DPP PKB, Jl Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa (22/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bersilaturahmi kami sikapi secara positif sebagai upaya konsep gotong royong negeri ini. PKS memiliki perwakilan di DPR. Dengan silaturahmi itu, PKS Jokowi-JK semakin mashlat, bangsa dan negara, begitu." tuturnya.
Terkait isu yang berkembang, pertemuan tersebut membahas soal reshuffle, Basarah enggan berspekulasi. Namun, diingatkannya urusan reshuffle merupakan hak prerogatif Presiden Joko Widodo.
"Kita harus menerima secara konstitusional, presiden punta hak prerogatif, kami mendukung pemerintahan. Beliau lah yang paling tahu posisinya," tuturnya.
(Baca juga: Wapres JK Anggap Wajar Pertemuan Jokowi dan PKS)
Elite PKS yang menemui Jokowi pada Senin (21/12) adalah Presiden PKS Sohibul Iman, Bendum PKS Mahfud Abdurrahman, Ketua DPP bidang Polhukam DPP PKS Almuzammil Yusuf, Wasekjen DPP PKS Mardani Ali Sera, Kabid Pekerja-Petani-Nelayan DPP PKS Ledia Hanifa, dan Kabid Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS Wirianingsih.
Usai pertemuan itu, Sohibul Iman menyebut PKS bakal mendukung program pemerintah yang baik. Kata-kata ini seolah normatif, tapi kali ini yang mengucapkan pemimpin parpol yang selama ini keras ke pemerintah.
"Apakah kami dukung pemerintah? Jelas kalau pemerintah punya program baik ya kami dukung. Karena kita beda posisi makanya bisa saling melengkapi," kata Sohibul. (hat/fdn)











































