DetikNews
Selasa 22 Desember 2015, 17:31 WIB

Batik Motif Geblek Renteng dan 'Bela Beli Kulonprogo' ala Bupati Hasto

Bagus Kurniawan - detikNews
Batik Motif Geblek Renteng dan Bela Beli Kulonprogo ala Bupati Hasto Foto: Bagus Kurniawan/detikom
Kulonprogo - Sekitar tahun 1980-1990-an banyak wanita yang mencari pekerjaan sebagai buruh di Yogyakarta. Bahkan ada ratusan pekerja wanita yang menjadi buruh batik di perusahaan-perusahaan batik di Kota Yogyakarta.

Mereka terutama kaum wanita hanya menjadi buruh atau menjadi pembatik atau tukang jahit di perusahaan konveksi. Sedangkan kaum pria selain menjadi buruh bangunan, ada yang bekerja di perusahaan menjadi tukang cap dan pewarnaan kain batik.

Saat industri batik di Yogyakarta mulai surut, mereka banyak yang kembali ke rumah atau desa. Tidak banyak yang mereka kerjakan di desa kecuali bertani bagi yang masih punya lahan pertanian. Namun yang tidak bisa bertani, dengan bekal keahlian saat bekerja pada para juragan batik tersebut, mereka tetap menjadi pembatik di rumah. Namun hasilnya kemudian disetorkan atau dijual kepada pengusaha batik di kota.

Salah satu sentra batik di Kulonprogo adalah Desa Gulurejo dan Ngentakrejo Kecamatan Lendah. Desa tersebut terletak di wilayah selatan atau di sebelah barat Sungai Progo yang berbatasan dengan Kabupaten Bantul.

 
Di kedua desa tersebut ada ribuan orang yang bekerja sebagai pembatik. Ada banyak pengusaha dari desa tersebut yang sukses berbisnis kain batik. Batik-batik produksi Gulurejo dan Ngentakrejo Lendah ini sudah tidak hanya merambah Yogyakarta saja, namun pemasarannya sudah sampai ke luar Jawa seperti Sumatera dan Kalimantan.

Melihat sumber daya manusia (SDM) yang mahir dalam membatik itu dan potensi perekonomian dari sektor batik itu Bupati Kulonoprogo Hasto Wardoyo melalui program Bela Beli Kulonprogo menggalakkan untuk mengenakan kain batik buatan sendiri/lokal. Sebelumnya pakaian batik kebanyakan berasal dari sentra batik seperti Solo dan Pekalongan.

Bupati Hasto Wardoyo

Menurut dia, ada sekitar 80 ribu siswa SD, SMP, SMA dan PAUD di Kulonprogo. Kalau mereka mengenakan seragam batik produksi luar Kulonprogo, yang untung adalah perusahaan daerah lain. Belum lagi PNS yang berjumlah 8 ribu ditambah perangkat desa seluruh Kulonprogo sebanyak 10 ribu.

"Kalau mereka pakai kain batik dari luar yang untung kan luar, bukan kita," kata Hasto kepada detikcom.

Saat ini Hasto sudah melihat geliat ekonomi warga di sektor batik yang ada di Kecamatan Lendah. Dia kemudian buat lomba desain motif batik. Hasil lomba itu kemudian muncullah batik motif Geblek Renteng sebagai batik khas motif Kulonprogo.

Motif geblek renteng mengandung arti, geblek adalah makanan khas Kulonprogo yang terbuat dari ketela yang dibuat bulat-bulat. Sedang renteng berarti rentengan atau ikatan satu sama lain saat digoreng.

"Motif ini sudah kita daftarkan HAKI-nya di Kementerian Hukum dan HAM RI sekitar 1,5 tahun lalu," katanya.


Batik motif geblek renteng ini kemudian menjadi seragam batik wajib seluruh siswa sekolah di Kulonoprogo. Demikian pula dengan para PNS seluruh Kulonprogo juga mengenakan seragam batik produksi sendiri.

Menurut dia, para perajin batik di Kulonprogo saat ini sibuk melayani pemesanan seragam batik geblek renteng tersebut. Omzet produksi pun meningkat dari rata-rata 2 ribu yard per bulan, saat ini meningkat hingga 40 ribu yard per bulan.

"Di Lendah sekarang ini ada banyak pengusaha batik di sana yang sukses. Dulu hanya ada 2 atau 3 orang pengusaha saja. Sekarang ini semua pengusaha batik omzetnya terus naik. Pesanan tidak hanya dari Kulonprogo saja tapi sudah merambah dari daerah luar Jawa, seperti Kalbar yang membeli batik hingga miliaran rupiah untuk baju seragam kantor," tutup Hasto.
(bgs/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed