"Terlalu kering kalau pembangunan itu hanya diisi hanya pencapaian-pencapaian, ambisi yang bersifat material. Nah, dia keringnya itu lantaran tidak ada fundamen kebudayaan. Jadi tadi sambil makan siang kami bersepakat bahwa pembangunan mulai dari hari ini kalau bisa, dia dilandasi oleh pemahaman komprehensi dan hal-hal yang sangat penting dalam kebudayaan," tutur budayawan Radhar Panca Dahana usai pertemuan, Selasa (22/12/2015).
Presiden Jokowi bertemu para budayawan (dok Setpres) |
"Misal regulasi, biasanya program dimainkan. Dalam istilah Butet (Kertarahardja), program kebudayaan itu sama dengan panti pijit. Isinya hanya entertaining. Jadi kalau ada Menkeu menganggap kebudayaan itu adalah dari sertijab, kita cuma dianggap sebagai topeng monyet saja. Nah, cara berpikir dan bersikap mereka memang tidak berbudaya. Jadi kita ingin untuk mengubah hulunya," imbuh sastrawan itu.
Presiden Jokowi bertemu para budayawan (dok Setpres) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Jokowi bertemu para budayawan (dok Setpres) |
1. Radhar Panca Dahana
2. Franz Magnis-Suseno
3. Nungky Kusumastuti
4. Yockie Suryoprayogo
5. Butet Kartarejasa
6. Mohammad Sobary
8. Haidar Bagir
9. Nasirun
10. Tisna Sanjaya
11. Sindhunata
12. Sys NS (bag/hri)











































Presiden Jokowi bertemu para budayawan (dok Setpres)
Presiden Jokowi bertemu para budayawan (dok Setpres)
Presiden Jokowi bertemu para budayawan (dok Setpres)