DetikNews
Selasa 22 Desember 2015, 11:06 WIB

'Bela Beli Kulonprogo', Spirit dan Sukses Bupati Hasto Angkat Produk Lokal

Bagus Kurniawan - detikNews
Bela Beli Kulonprogo, Spirit dan Sukses Bupati Hasto Angkat Produk Lokal Foto: Dok Bagian IT dan Humas Pemkab Kulonprogo
Kulonprogo - Bagi sebagian orang, Kulonprogo termasuk daerah asing. Tak banyak yang mengenal daerah di Provinsi DI Yogyakarta itu. Padahal di sanalah, program mengangkat produk lokal sukses dijalankan. Nama programnya 'Bela dan Beli Kulonprogo'.

Program ini diluncurkan Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo bersama Wakil Bupati, Sutedjo, pada tanggal 25 Maret 2013. Ikrar gerakan Bela Beli Kulonprogo waktu itu semangatnya adalah merebut pasar di negeri sendiri.

Program ini merupakan gerakan untuk membeli dengan cara membeli produk-produk lokal yang dipunyai di wilayah barat Provinsi DIY ini. Hasto menyadari, masih banyak warga Kulonprogo yang kesejahteraannya masih kurang di bandingkan kabupaten/kota lainnya di Provinsi DI Yogyakarta. Sementara itu sumber daya alam dan sumber daya manusia ada di kabupaten yang terletak di sebelah barat Sungai Progo itu.

"Ini program ideologis untuk kemandirian bangsa secara ekonomi. Caranya ya dengan membeli produk sendiri," ungkap Hasto kepada detikcom.

Dia bercerita menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini, dari sisi teknologi dan infrastruktur Indonesia sudah tertinggal jauh dengan negara lain. Tidak ada waktu untuk mengejar ketertinggalan tersebut secara cepat.

"Contohnya HP itu produk teknologi dari luar. Kita tidak bisa membuat sendiri, termasuk teknologi elektronik lainnya. Tak ada waktu lagi untuk mengejar ketertinggalan tersebut," katanya.

Salah satu cara untuk mengatasi ketertinggalan itu, lanjut Hasto, adalah dengan mengkampanyekan pemakaian produk-produk lokal atau menguasai pasar sendiri. Meski hal itu bukan perkara mudah dan mendapat respons positif, dia optimis program akan berhasil.

"Kita pernah punya success story saat perjuangan melawan Belanda. Saat itu Belanda yang lebih maju secara persenjataan, berhasil kita lawan dengan senjata yang kita punyai. Ada semangat bersama dan bersatu. Holobis kunthul baris itu kuncinya," ungkap Hasto yang menjabat di Kulonprogo sejak tahun 2011 itu.

Dia mengatakan sumberdaya alam di Kulonprogo melimpah. Demikian pula dengan sektor pertanian dan perkebunan baik yang ada di wilayah selatan (pesisir) dan utara di pegunungan Menoreh. Namun dari sisi tenaga kerja, masih banyak warga Kulonprogo yang mencari penghidupan di Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

Pada pertengahan tahun 2013, dia menjalankan program Bela Beli Kulonprogo di bidang pertanian. Pemkab memfasilitasi pembentukan gapoktan (gabungan kelompok tani). Mereka juga dilatih untuk mengikuti berbagai pelatihan. Petani diajak tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk gabah, tetapi memproses dan mengemasnya menjadi beras. Mereka juga difasilitasi mesin giling dan bantuan permodalan serta pelatihan manajemen atau pengelolaan.

"Gapoktan dilatih untuk mengemasnya dengan baik sesuai standar. Namun ini juga perkara tidak mudah. Awalnya banyak petani yang tidak terbiasa. Mereka biasa langsung menjualnya, tapi pelan-pelan mereka mau," kata pria berlatar belakang dokter kandungan ini.

Setelah itu saat beras berada di pasaran dan bisa terserap, Hasto mewajibkan PNS di lingkungan pemkab Kulonprogo untuk membeli beras dari petani. Sebanyak 8 ribu PNS di Kulonprogo minimal membeli 10 kg setiap bulan.

"Gerakan pro beras ini berhasil, meski juga ada yang setuju dan tidak," katanya.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo

Bersamaan dengan program tersebut Hasto juga berhasil menjalin kerjasama dengan Bulog. Dia meminta Bulog agar membeli beras untuk raskin dari petani setempat atau gapoktan. Sebanyak tujuh dari 12 gapoktan telah menjalin kerjasama dengan Bulog untuk memasok raskin. Pada tahun 2014 memasok sebanyak 1.900 ton dan tahun 2015 sudah naik lebih dari jumlah tersebut.

Program beras daerah atau rasda ini menurut Hasto sudah disampaikan kepada Presiden Jokowi dan mendapat respons positif. Sedangkan dari sisi petani sendiri pendapatan juga meningkat. Beras produksi gapoktan ini dengan kemasan yang bagus juga sudah dijual di minimarket-minimarket di Kulonprogo.
 
"Cita-cita kita bisa men-take over hingga 7 ribu ton. Surplus beras yang ada di sini (Kulonoprogo-red) kita berharap bisa untuk mencukupi kebutuhan beras di lain tempat seperti Kota Yogyakarta yang tidak ada lahan sawah lagi," paparnya.

Dia menambahkan Kulonprogo ada beras varietas lokal unggul. Beras bernama Melati Menoreh (Menor) ini diluncurkan penanaman perdana pada bulan Sepetmber 2013. Menor merupakan jenis padi premium diluncurkan Pemkab Kulonprogo sebagai beras unggulan yang menjadi produk khas Kulonprogo. Saat ini beras jenis ini masih dalam proses pemurnian bibit di Dinas Pertanian.

"Padi Menor ini adalah varietas asli Kulonprogo yang belum pernah dibudidayakan secara massal. Kalau ini berhasil bisa menyaingi kualitas premium yang beredar di pasaran sekarang," kata dokter lulusan UGM itu.

Produk lokal Kulonprogo lainnnya yang saat ini terus didoronga adalah air minum kemasan lokal. Di Kulonprogo ada sumber mata air yang melimpah di daerah Clereng, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih. Sebelumnya air dari Clereng hanya digunakan untuk pelanggan PDAM saja.

Dia mendorong PDAM untuk membuat inovasi dengan memproduksi air minum dalam kemasan (AMK) merek AirKU. Nama AirKU itu berarti  air Kulon Progo, yang diambil dari mata air Clereng.

Menurutnya hampir setiap hari ada puluhan ribu warga masyarakat Kulonprogo yang mengkonsumsi air minum kemasan produk luar. Ada sekitar 4,8 juta air minum kemasan gelas yang dikonsumsi warga tiap bulan mulai dari hajatan di desa, acara di lingkungan Pemkab dan acara lainnya.

Dia mengatakan keuntungan dari air minum kemasan itu banyak lari keluar Kulonprogo. Padahal Kulonprogo punya sumberdaya air yang bagus dan masih murni. Dari situlah muncul program membuat air kemasan sendiri.

"Akhirnya kita buat AirKu itu, sekarang PDAM sudah mampu memproduksi 100 ribu karton AirKU tiap bulan," katanya.

Dia mengakui selama lebih kurang 3 tahun program Bela Beli Kulonprogo ini berbagai keberhasilan telah diraih. Salah satunya tingkat inflasi menjadi rendah. Roda perekonomian rakyat terus bergerak dan berjalan sehingga kesejahteraan rakyat juga mulai terasa hasilnya.
(bgs/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed