Saatnya Kampanyekan Anti Aliran Radikalisme di Media Sosial

Saatnya Kampanyekan Anti Aliran Radikalisme di Media Sosial

Rivki - detikNews
Senin, 21 Des 2015 17:30 WIB
Saatnya Kampanyekan Anti Aliran Radikalisme di Media Sosial
Foto: Rivki
Jakarta - Aliran radikalisme, kini sudah menyeruak ke berbagai lini salah satunya ke media sosial. Untuk itu, para pengguna media sosial diharapkan bijak dalam menggunakannya agar tidak terjebak dalam kesesatan.

Ketua umum PP Pemuda, Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan, media sosial kini mulai merekrut kader-kadernya lewat medsos seperti Facebook, Twitter dan lain-lain. Mereka berkomunikasi secara personal kepada seseorang agar mau bergabung dengan alirannya.

"Bahkan ISIS dalam merekrut anggotanya, menggunakan media sosial. Website-website mereka lebih aktif, mereka lebih personal," ucap Dahnil, dalam diskusi Menghadapi Radikalisme dan Memperjuangkan Kepentingan Nasional di Media Sosial, yang diselenggarakan di Gedung Pusat Pengembangan Islam Bogor, Jl Padjadjaran, Bogor, Senin (21/12/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan Dahnil sempat menyinggung website-website ormas Islam yang kalah aktifnya dengan website aliran radikalisme. Menurut Dahnil tokoh-tokoh agama harusnya sekarang mulai melek teknologi untuk mencegah aliran radikal.

"Bahkan website-website ISIS dan sebagainya lebih aktif ketimbang website Muhammadiyah dan NU," ucap Dahnil.

Senada dengan Dahnil, Walikota Bogor Bimar Arya juga meminta para pengguna medsos bersikap bijak. Bima yang mewakili jajaran pemerintah berjanji dirinya dan jajarannya akan terus gencar mengkampanyekan kebersamaan dan persatuan di media sosial.

"Kita aktualisasiskan keberagaman di sosial media. Kita harus berikan banyak pesan, kita bangun benteng yang kuat dan kokoh serta ini perlu dukungan dari para tokoh," ujar Bima.

Bima menyampaikan, seharusnya warga tidak terpancing dengan isu-isu sensisitf di media sosial yang kebenarannya masih diragukan. "Jangan terpancing dengan isu-isu enggak penting, PR Kota Bogor itu masih banyak," ucap Bima di kesempatan yang sama.

Tokoh NU, Salahuddin Wahid, juga berbicara hal yang sama. Dia mengimbau agar media sosial jangan disampaikan sarana penebar kebencian. Pria yang akrab disapa Gus Solah ini meminta kepada pengguna agar selalku menggunakan bahasa yang baik dan santun.

"Gunakanlah bahasa yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman," pungkasnya. (rvk/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads