'Timer' di terminal biasanya bertugas untuk mengatur antrean bus dan angkot. 'Timer' juga berfungsi sebagai pihak ketiga bila bus atau angkot tersebut ditilang. Rata-rata para 'timer' mengutip Rp 1.000 dari para sopir sekali melintas di terminal. Namun, akibat aksi mogok ini, para 'timer' gigit jari karena tak ada pemasukan.
"Sepi nih hari ini, biasa sampai hari ini ada 34 mobil, ini baru 14 mobil," ucap seorang timer perempuan, saat ditemui di Terminal Tj Priok, Jl Yos Sudarso, Jakarta Utara, Senin (21/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rata-rata tadi pada pakai Go-Jek," ucapnya.
Sedangkan salah seorang penumpang, Allan Saputra juga mengaku tidak peduli dengan aksi mogoknya Metromini. Dia juga memilih ojek berbasis online sebagai tranportasi utamanya.
"Enggak usah pusing-pusinglah, kalau enggak ada tinggal pakai Go-Jek," ucap warga Cilincing, Allan Saputra,
Allan memang kerap naik Metromini demi pengiritan. Allan sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan industri Cilincing. Menurut Allan, Metromini merupakan pilihan kedua.
"Ya kalau enggak ada Go-Jek saya naik Metromini. Soalnya kan Go-Jek suka jarang mau narik juga kalau jauh ke Cilincing makanya naik Metro. Tapi saya enggak pusing-pusing amat kalau Metromini enggak narik," ucapnya. (rvk/nwk)











































