Golden Eagle pertama yang kecelakaan adalah varian akrobatik T-50B yang menabrak gunung di Hoengseong pada 15 November 2012. Saat itu pesawat tengah dipakai berlatih oleh Kapten Kim Wan-hee dari tim akrobatik angkatan udara Korea, Black Eagles.
Kapten Kim tewas dalam kecelakaan tersebut. Penyelidikan menyebutkan jet latih itu kecelakaan akibat kesalahan manusia, yakni kru perawatan yang lupa mencabut kabel perbaikan sehingga sistem yang mengontrol gerak vertikal pesawat tidak berfungsi.
Insiden kedua terjadi dekat pangkalan udara di Gwangju pada 28 Agustus 2013. Jatuhnya Golden Eagle ini menewaskan kedua penumpangnya, Mayor Noh Se-gwon dan Kapten Chung Jin-gyu.
Ketika itu angkatan udara Korea Selatan dalam siaran persnya menyebut penyelidikan terhadap rekaman data dan percakapan penerbangan menunjukkan tak ada masalah pada mesin, kokpit, dan sistem kursi pelontar. Siaran pers ini juga menyebut instruktur penerbangan latih ini ditemukan tewas di dalam pesawat, sedangkan pilot meninggal akibat luka yang diderita setelah memakai kursi pelontar. "Meski pilot memakai kursi pelontar, dia tidak selamat karena ketinggian pesawat terlalu rendah."
Sementara itu kecelakaan ketiga di Yogyakarta menewaskan dua perwira TNI AU, yakni Letkol Marda Sarjono dan Kapten Dwi Cahyadi. Hingga kini TNI AU masih menyelidiki penyebab kecelakaan. Tim investigasi diketuai langsung oleh Wakil KSAU," ujar Kadispen TNI AU Marsma Dwi Badarmanto di gedung Suma III, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (20/12/2015). (okt/okt)











































