Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Lucius Karus menyebut banyak kunjungan kerja ke luar negeri yang dilakukan DPR sebenarnya tak mendesak.
"Itu wajib, harus dikurangi. Harus itu. Mengacu masa sidang I dan II sebelum reses ini, agenda kunker ke luar negeri ini yang nggak penting, nggak mendesak," ujar Lucius di kantor Formappi, Jl Matraman Raya, Jakarta, Minggu (20/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, janji ini mesti direalisasikan. Namun, bila hanya dari pernyataan Ade Komarudin, hal ini bakal sulit terwujud.
"Itu bukan keputusan Akom (Ade Komarudin, red) semata. Meskipun dia punya peranan. Tapi, butuh peran semua fraksi di DPR, secara stimultan," katanya.
Sementara, soal kunker ketika reses juga mesti menjadi catatan. Waktu dua pekan untuk reses dinilai cukup.
Namun, pasca reses tak ada hasil laporan yang dilakukan anggota dewan. Padahal, ini penting agar rakyat bisa melihat upaya yang dilakukan anggota dewan secara transparan.
"Ini belum transparan. Belum sama sekali ada itu. Harusnya prosedur laporan itu diketahui publik," tuturnya. (hat/bag)











































