Teror penyanderaan yang terjadi pada 15-16 Desember 2014 itu dilakukan oleh Man Haron Monis, seorang muslim warga negara Australia. Aksi Monis berujung pada tewasnya tiga orang, termasuk si pelaku.
Aksi teror itu memang berhasil dihentikan dalam kurun waktu kurang dari 48 jam. Namun teror itu meninggalkan sejumlah imbas, salah satunya ke komunitas muslim di Australia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun itu hanya dilakukan oleh oknum-oknum warga. Tidak semua warga bersikap serupa. Bahkan ada yang membela.
"Cukup banyak warga yang memberikan perlindungan. Membela kami. Tidak semua seperti itu, itu hanya sikap individu," ujar Sriati.
Ada pun pemerintah Australia, kata Sriati, tetap bersikap terbuka terhadap komunitas muslim. Tidak ada perbedaan perlakuan pasca terjadinya teror di Lindt Cafe tersebut.
"Pemerintah di sini tetap menjaga semangat multikultur," kata Sriati.
Sriati (berbaju putih) menceritakan sikap pemerintah Australia. Foto: Fajar Pratama/detikcom |
Hal senada dilontarkan oleh Amin Hady, Kepala The Foundation of Islamic Studies and Information. Amin yang juga merupakan petinggi Australian Federation of Islamic Council ini mengatakan pemerintah Australia memperlakukan setiap komunitas agama secara adil.
"Australia ini kan negara sekuler. Pemerintah bersikap netral terhadap agama satu dengan yang lainnya tidak ada pembedaan. Semua diterima dengan baik," ujar Amin.
Pria yang juga kerap diundang untuk menjadi penasihat pemerintah Australia terkait komunitas muslim ini mengatakan, pemerintah Negeri Kangguru sebenarnya merasa rentan terhadap serangan teror. Oleh karena itu pemerintah Australia, kata Amin memberikan anggaran yang besar untuk kegiatan antiteror.
"Australia punya 65 juta dollar dana antiteror. 13 juta (dollar) di antaranya dialokasikan untuk kegiatan pencegahan teror salah satunya deradikalisasi," kata Amin.
Kegiatan pencegahan terorisme itu, lanjut Amin dilakukan dengan mengirimkan guru-guru agama Islam dengan kualifikasi tertentu ke sekolah-sekolah. Guru-guru ini sudah mendapatkan pelatihan khusus.
"Guru-guru yang dipilih ini adalah guru yang memiliki pengetahuan mengenai Islam secara utuh. Tidak sepotong-sepotong. Sehingga mencegah gerakan radikalisasi," ujar Amin.
Pria lulusan Ponpes Gontor yang sudah menetap di Australia lebih dari 40 tahun ini mengatakan, meski muslim merupakan komunitas minoritas di Australia, dinamika kelompok di dalamnya cukup beragam. Hal itu terkait dengan negara asal mereka.
"Komunitas muslim paling banyak di sini berasal dari Turki, Lebanon, kemudian Bangladesh. Setelah itu baru dari Indonesia," kata Amin.
"Kami juga kaget, ada seorang pemuda dari sini yang katanya pergi liburan ke Thailand, atau pamit untuk memancing, tahu-tahu ternyata sudah berada di Suriah," sambung Amin. (faj/bag)












































Sriati (berbaju putih) menceritakan sikap pemerintah Australia. Foto: Fajar Pratama/detikcom