DetikNews
Minggu 20 Desember 2015, 07:37 WIB

Pistol Kok Bisa Masuk LP Kerobokan? Kemenkum HAM: Masalahnya Banyak

Danu Damarjati - detikNews
Pistol Kok Bisa Masuk LP Kerobokan? Kemenkum HAM: Masalahnya Banyak Foto: istimewa
Jakarta - Senjata api alias pistol hingga senjata tajam ditemukan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan, Bali saat razia. Bagaimana benda-benda berbahaya itu bisa masuk lingkungan LP?

Pihak Kementerian Hukum dan HAM (Menkum HAM) menuturkan faktor kompleks yang melatarbelakangi lolosnya barang-barang itu masuk LP Kerobokan. Mulai dari banyaknya 'jalan tikus' ke dalam LP hingga kurangnya jumlah sipir.

"Permasalahannya banyak," kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkum HAM I Wayan K Dusak kepada detikcom, Minggu (20/12/2015).

LP Kerobokan, Bali


Wayan menyebut setidaknya ada sembilan jalan untuk menyelundupkan barang-barang dari luar LP ke dalam LP Kerobokan. Barang-barang mulai senjata api, senjata tajam, sabu, hingga jenglot, kemungkinan juga diselundupkan lewat 'jalan tikus' ini.

"Ada sembilan area penyelundupan barang. Di antaranya lewat kesempatan kunjungan ke Narapidana, (penyelundupan) lewat petugas, masuknya bahan makanan setiap hari, lewat narapidana asimilasi (narapidana yang menjadi petugas kebersihan di luar LP), dan lewat tahanan yang bersidang dan membawa barang dari luar," tutur Wayan.

Belum lagi, prosedur pemeriksaan yang kurang optimal dijalankan oleh petugas LP. Wayan-pun mengakui kekurangan ini. Kondisi ini diperparah dengan minimnya personel sipir untuk menjaga para narapidana.

"1.000 orang narapidana dijaga 10 orang, petugas pasti stress lah," ucap Wayan.

Temuan di LP Kerobokan


Ada 40 personel petugas LP Kerobokan. Mereka dibagi menjadi empat regu, jadi tiap regu berisi 10 personel. Sistem jaga diterapkan pergantian siang-malam, meski ini sebenarnya tergantung Kepala Lapas yang sedang menjabat.

Untuk personel yang berjaga dari pagi hingga siang hari, mereka bekerja sampai enam jam. Untuk personel yang mendapat giliran malam hari, mereka berjaga selama 12 jam. Soal kebobolan selundupan barang-barang yang tak semestinya ada di LP, itu bisa disebabkan adanya ancaman yang acapkali diterima petugas.

"Mungkin dia (personel petugas) memang melihat ada barang masuk, tapi dia diancam bunuh, bagaimana? Ini harus diperbaiki, berkaitan dengan revolusi mental ini kita mulai. Momen di LP Kerobokan terjadi seperti itu," tutur Wayan.

Tak dipungkiri pula, ada semacam konspirasi terlarang antara petugas LP dengan narapidana. Sementara di sisi lain, untuk merotasi staf-staf LP demi menghindari keakraban berlebihan dengan narapidana, sulit dilakukan. Soalnya, rotasi staf perlu juga disertai fasilitas rumah dinas di tempat kerja yang baru. Dan fasilitas itulah yang belum bisa dipenuhi.

"Kalau rotasi untuk tingkat staf-staf itu tidak mungkin," kata dia.

Soal peran Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kerobokan dalam 'bobolnya tembok penjara' oleh aksi penyelundupan, menurut Wayan tak bisa dipersalahkan kepada Kalapas Kerobokan kini. Soalnya, bisa saja barang-barang berbahaya itu bisa jadi sudah diselundupkan sejak era Kalapas-kalapas sebelumnya.

"Kan belum tentu Kalapas sekarang. Bisa berarti Kalapas yang lalu, kita tidak bisa menyalahkan Kalapas. Ini tidak tiba-tiba. Apalagi Kalapas ini baru dua bulan," tutur Wayan.

Bisa jadi, menurut Wayan, narapidana sudah lebih cerdik menyelundupkan barang-barang ke dalam LP. Maka kini razia terus digalakkan. Hasilnya, didapati berbagai macam barang berbahaya seperti yang didapati Sabtu (19/20) kemarin. Senjata api itu lebih pantas berada di arsenal, bukan di LP. Semoga saja LP tak berubah menjadi arsenal.

Kini, langkah untuk menghilangkan penyelundupan di LP dilakukan. Pertama adalah razia menyeluruh, seluruh blok. Bukan hanya razia kamar saja yang sudah menjadi razia konvensional, namun juga razia plafon, kebun, kandang, WC, selokan, hingga telaga.

Kedua, pemerintah mencoba terus menanamkan kesadaran soal peran Bali sebagai tempat pariwisata. Untuk yang satu ini, Pemerintah Daerah setempat diharapkan bisa berkontribusi mengedukasi masyarakat di luar LP.

"Bali ini khusus, kalau pariwisata tanpa ada keamanan, wisatawan mau datang ke mana?" tutur Wayan.

Peristiwa keributan yang memakan korban jiwa terjadi di lingkungan LP Kerobokan, Bali, pada Kamis (17/12) kemarin. Kemudian, dilakukan razia di LP Kerobokan, dan ditemukanlah senjata-senjata itu di dalam LP.

(Baca: Barang Hasil Pengeledahan di LP Kerobokan, Dari Jenglot Hingga Samurai)


(dnu/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed