Saat panitia seleksi KPK memilih 8 nama capim KPK, ICW sempat melayangkan surat. Yakni tentang 3 nama yang dianggap memiliki track record yang buruk.
"Kita kirim surat ke pansel, dari 8 nama kita keberatan 3 nama. Sayangnya tidak dihiraukan, termasuk dari Presiden Jokowi," ungkap aktivis antikorupsi Emerson Yuntho di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakpus, Sabtu (19/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masuk yang ada tanda merah, tapi tidak bisa saya sebutkan siapa. Busyro, Johan Budi, Sudjanarko menurut kami layak dipilih. Mereka bisa meneruskan tongkat estafet KPK," tuturnya.
"Posisi ini yang menurut kita tidak terlalu menggembirakan," sambung Emerson.
ICW disebutnya akan membentuk KPK tandingan. Pasalnya 5 pimpinan KPK baru ini tidak punya visi misi yang galak kepada para koruptor. Tidak seperti pimpinan-pimpinan KPK sebelumnya.
"Mereka lebih mendorong KPK menjadi pencegah, setuju revisi UU KPK. Kami khawatir yang dipilih bukan orang luar biasa tapi biasa-bisa saja dan dianggap bersahabat dengan DPR. Kita akan bikin KPK tandingan, jadi koalisi pengawas KPK," ujar Emerson.
"Seperti jilid I, II, dan III, kita akan jadi mitra kritisnya KPK. Kalau KPK layak dikasih apresiasi kita akan katakan itu, tapi kalau mereka offside atau melanggar, kita akan ingatkan juga bahwa Anda melanggar dan Anda harus kembali ke jalan yang benar," lanjut dia.
Sementara itu Anggota Komisi III DPR Dwi Ria Latiha menyayangkan mengapa ICW tidak mengirimkan daftar 3 nama yang memiliki 'cacat' kepada DPR. Politisi PDIP itu juga menyebut fraksinya sudah memilih capim KPK yang sesuai dengan harapan para aktivis antikorupsi, namun kalah voting.
"Emerson nggak kirim ke kita sih (nama yang ada rapor merahnya). Emerson tadi bilang yang dipilih yang tidak akan memakan DPR, kami (PDIP) pilih yang Emerson harapkan, tapi itu kuasa anggota. Tapi jangan disamaratakan, karena semua punya pikirin sendiri seperti apa yang layaknya dipilih," tukas Ria pada kesempatan yang sama. (elz/mok)
