Ditira, Dalang Cilik yang Tergila-gila Wayang Golek dan Si Cepot

Ditira, Dalang Cilik yang Tergila-gila Wayang Golek dan Si Cepot

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Jumat, 18 Des 2015 10:21 WIB
Yudistira Manunggal Rahmaning Hurip (Foto: Yudhistira Amran Saleh/detikcom)
Purwakarta - Kecintaannya pada budaya sunda telah tertanam sejak masih balita. Ayahnya yang menanamkan cinta budaya Indonesia, khususnya budaya sunda ke dalam dirinya.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan bunyi-bunyian alat musik sunda, seperti kecapi, suling, kendang, angklung atau juga gamelan. Tak hanya itu saja, semenjak sang ayah memperkenalkan pada kesenian wayang golek, ia pun tertarik untuk menjadi dalang dan mencoba mempelajarinya.

Ia adalah Yudistira Manunggal Rahmaning Hurip, putra kedua Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan Anne Ratna Mustika. Ditira, begitu ia akrab disapa lahir di Bekasi, 19 September 2003.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi waktu umur tiga tahun, lihat di televisi ada wayang golek terus sama bapak diajarin sedikit. Terus mulailah belajar. Selain itu juga mulai kenal alat-alat musik khas sunda seperti kecapi, suling, dan kendang," ujar Ditira kepada detikcom di rumah dinas Bupati Purwakarta, Jalan Ahmad Yani, Purwakarta, Kamis (17/12/2015).

"Kalau saya punya dalang favorit namanya abah Asep Sunandar. Suka aja sama beliau. Si cepot kan. Unik, lucu, dan juga itu asli budaya Indonesia khususnya sunda," lanjutnya.

Baginya, menjadi dalang adalah kebanggaan tersendiri karena turut berpartisipasi dalam melestarikan budaya Indonesia. Selain itu Ditira menambahkan harkat suatu bangsa diukur dari budayanya.

"Bangsa kita ini kan bangsa yang berbudaya. Walaupun berbeda-beda namun satu. Kalau bukan kita yang menjaga, lalu siapa lagi?," ucap Ditira.

Saat ini, Ditira duduk di bangku kelas 6 SD Kahuripan Padjajaran. Sewaktu ia kelas 5 SD, Ditira pernah tampil sebagai dalang di acara budaya di Universitas Indonesia dan ulang tahun Lemhanas.

"Waktu itu sih dikabarin aja katanya mau gak tampil di acara budaya di UI. Saya terus mau aja. Abis itu saya juga tampil di ulang tahunnya Lemhanas," kata bocah yang suka baca komik ini.

Baginya, sang ayah yang kini menjadi pejabat publik sangat mendukung kesukaannya terhadap dalang. Malah Dedi juga memberikan guru khusus kepada Ditira untuk belajar mendalang dan bermain alat musik tradisional sunda.

Beberapa lakon yang sudah pernah Ditira tampilkan di depan publik antara lain, lakon Jaya Berbangsa, Gatotkaca Gugur, dan Salya Gugur. "Jaya Berbangsa waktu itu penampilan saya pertama jadi dalang di acara HUT Bank Jabar. Nervous, grogi sih waktu itu," imbuh Ditira yang juga menyukai memancing.

Saat ini, Ditira mempunyai 100 wayang golek. Beberapa diantaranya ada yang beli dan lainnya dikasih. Dari 100 wayang golek itu, Ditira sangat berkesan terhadap karakter Gatotkaca.

"Karena beli langsung di tempatnya abah Asep (Asep Sunandar) jadi itu mungkin yang paling berkesan," tuturnya.

Ditira baru-baru ini juga turut memeriahkan festival dalang yang diberi nama Festival Dalang Rancage yang diselenggarakan pada tanggal 15 Desember lalu. Festival tersebut merupakan inisiasi dari sang ayah untuk mempertahankan dan melestarikan budaya sunda.

"Kemarin lakon yang saya bawakan itu Salya Gugur," tutupnya.

(yds/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads