"Poin-poin yang tertera dalam Oslo Agreement lebih dari 20 tahun yang lalu tidak pernah terealisasi, keadaan Palestina semakin hari semakin buruk. Diskusi dan negosiasi dengan Israel selalu menemukan deadlock. Mereka menolak Palestine sebagai sebuah united nations," ungkap Riyadh Mansour, Dubes Palestina untuk Indonesia dalam diskusi yang diselenggarakan CDCC (Center for Dialogue and Cooperation among Civilisation), Jalan Kemiri No 24, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/12/2015).
Hal yang kemudian sangat membuat dunia internasional murka adalah, ketika militer Israel membatasi warga Palestina ketika ingin beribadah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian Riyadh secara khusus menyebut bahwa warga Palestina ingin sekali seperti Indonesia, dapat hidup harmonis dan umat dari agama manapun dapat tenang dalam beribadah.
"Apabila umat Islam dari belahan dunia lain, seperti Mesir, Saudi Arabia , dan sebagainya ingin beribadah di negara Anda (Indonesia), mereka bisa beribadah dengan aman, mereka diterima baik di sini. Itu yang kami inginkan terjadi di Palestina, tidak ada militerisme, apalagi penjagaan ketika orang Palestina ingin beribadah," tuturnya
Ia mengemukakan optimismenya, bahwa apa yang dilakukan Israel hingga hari ini bisa berakhir suatu saat nanti dan rakyat Palestina bisa menikmati kemerdekaan.
"Diserang dan ditembaki oleh militer Israel, dari yang muda hingga yang tua, 20, 30, 40, 50, 60. Tidak hanya laki laki tapi juga perempuan. Kami menolak tegas perilaku Israel yang resisten terhadap warga Palestina. Mereka ingin eksistensi Palestina hilang dan hal itu sampai kapanpun tidak akan terjadi bagi saya. Saya tetap optimis kami bisa hidup damai dan merdeka suatu saat nanti," pungkasnya.
Halaman 2 dari 1











































