Cara Seoul Menata Sungai, Hasilnya Jadi Indah Seperti ini

Laporan dari Korsel

Cara Seoul Menata Sungai, Hasilnya Jadi Indah Seperti ini

Muchus Budi R. - detikNews
Kamis, 17 Des 2015 12:54 WIB
Cara Seoul Menata Sungai, Hasilnya Jadi Indah Seperti ini
Foto: Muchus Budi R/detikcom
Seoul - CheonggyeCheon atau Sungai Cheonggye adalah salah satu kawasan kumuh di masa lalu Kota Seoul, Korea Selatan. Kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman telah mengubah lokasi itu menjadi kawasan elit yang kini menjadi salah satu pusat destinasi Seoul. Narasi kolektif itu bernama 'Revolusi 5,8 km', ini merujuk pada panjangnya anak sungai tersebut. Tak cuma itu, Pemerintah setempat juga mencatat semua jejak dan kondisinya dalam sebuah museum khusus untuk bahan pelajaran bersama.

CheonggyeCheon adalah anak sungai yang mengalir dari barat ke timur, yang kemudian aliran airnya masuk ke JungnangCheon. Dari Sungai Jungnang, selanjutnya bergabung ke Hangang atau Sungai Han yang merupakan sungai terbesar di Kota Seoul.

Peradaban di Sungai Cheonggye sudah terlacak dan tercatat sejak 600 tahun lalu, sejak Dinasti Joseon berkuasa dengan pusat pemerintahan di Kota Hanyang, nama masa lalu Seoul. Banyak jejak yang telah tertoreh di sepanjang aliran sungai tersebut. Bahkan sejak semula kawasan itu merupakan kawasan utama ketika lalu-lintas masih mengandalkan pada transportasi air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tahun 1960, Pemerintah Republik Korea membangun jalan layang di atas CheonggyeCheon sehingga kawasan permukaan sungai itu nyaris tertutup. Proyek itu tercatat sebagai jalan layang pertama yang dibangun di Korea Selatan. Namun dampak dari itu adalah timbulnya kawasan sesak dan kumuh. Banyak rumah-rumah tak layak huni dibangun di sepanjang aliran Cheonggyecheon, di bawah jalan layang.

Adalah Lee Myung-bak, Wali Kota Seoul saat itu, yang kemudian memelopori restorasi CheonggyeCheon. Proyek itu dinamai 'Revolusi 5,8 km', sesuai panjang aliran CheonggyeCheon. Pada tahun 2003, Lee memutuskan menjadikan CheonggyeCheon sebagai kawasan hijau yang terbuka. Jalan layang yang sudah dianggapnya tak lagi aman untuk dilewati, harus dibongkar total.

(Foto: Muchus Budi R/detikcom)

Bukan tanpa halangan, banyak yang menolak rencana itu. Berbagai alasan dikemukakan, dari pemborosan, problem sosial, hingga problem transportasi modern yang membutuhkan semakin banyak alternatif jalan raya. Namun Lee bergeming. Dengan tegas dia mengatakan bahwa 'Revolusi 5,8 km' bukan merupakan proyek jangka pendek, melainkan demi masa depan. Dia melakukan pendekatan dengan warga, banyak kalangan dan pemangku kepentingan baik swasta maupun pemerintah. Akhirnya proyek 'Revolusi 5,8 km' selesai pada September 2005. Hasilnya bisa dirasakan kini.

"Sungai sekarang jernih dan tidak bau. Semua bersedia menjaga kebersihan air sungai. Semua gedung perkantoran dihadapkan ke sungai. Jalanan di pinggir sungai dibangun pedestrian yang nyaman. Ada 22 jembatan dibangun di atas sungai, 7 diantaranya khusus untuk pejalan kaki. Seluruh jalan layang dibongkar karena sudah tidak aman dan memang kami butuh ruang terbuka hijau. Kini kami menikmati hasilnya, bahkan ruang terbuka ini mampu menurunkan suhu udara hingga 3,6 derajat celsius di musim panas," ujar Choi Sung Jin, petugas pengelola Proyek CheonggyeCheon.

Choi Sung Jin juga memaparkan saat ini ikan-ikan semakin banyak berkembang biak di CheonggyeCheon. Jenisnya semakin beragam. Burung-burung juga semakin banyak yang datang. Demikian juga berbagai jenis tumbuhan bisa tumbuh tanpa terganggu pencemaran. Sedangkan di malam hari, sepanjang CheonggyeCheon bermandikan lampu-lampu hias nan cantik. Semenjak petang hingga malam, banyak pengunjung yang datang untuk menikmati suasana di pinggir kali.

"Problem transportasi tak sepenuhnya harus diselesaikan dengan semakin banyak membangun jalan raya, termasuk jalan layang. Banyak cara yang bisa ditempuh. Kami menerapkan regulasi ketat untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi dan terus meningkatkan layanan transportasi umum. Jalan layang bukan solusi utama, selain itu ruang terbuka juga dibutuhkan secara manusiawi," lanjut Choi Sung Jin.

(Foto: Muchus Budi R/detikcom)

Tak berhenti pada revitalisasi fisik badan sungai dan bantarannya, Lee Myung-bak juga memerintahkan dibangunnya sebuah museum khusus tentang CheonggyeCheon. Letaknya persis di pinggir aliran CheonggyeCheon. Museum itu menyimpan semua catatan, gambar dan foto-foto terkait CheonggyeCheon dari masa ke masa. Ada juga sederet rumah kumuh masa lalu yang dibiarkan tetap berdiri di tempatnya semula, untuk memberikan gambaran nyata kondisi CheonggyeCheon sebelum restorasi.

"Kami melacak, mengumpulkan lalu menyimpan semua catatan, gambar, foto, dan perkakas apapun yang terkait dengan CheonggyeCheon. Selanjutnya kami pamerkan di museum ini. Seluruh pengunjung boleh datang tanpa dipungut biaya. Tujuannya memang untuk belajar bersama mengenai penataan ruang yang baik menurut kami," ujar Park Min-A, kurator museum.

Lee Myung-bak, wali kota visioner dari Seoul itu memimpin sebuah proyek riil untuk menciptakan kawasan yang lebih tertata dan manusiawi. Dia berhasil menciptakan narasi kolektif di CheonggyeCheon. Tak cuma membangun dan menata, dia juga melengkapi proyeknya dengan sebuah catatan yang lengkap dan nyata berupa museum penyimpan catatan sejarah yang faktual agar semua bisa langsung melihat tanpa perlu membuat penggambaran hanya dengan kata berbusa-busa yang mungkin bisa berbias makna.

Lee Myung-bak di kemudian hari terpilih Presiden Korea Selatan pada 2008 hingga 2013. Semasa memerintah, politisi dari Grand National Party (Partai Besar Nasional) itu aktif menyokong dialog regional dengan Rusia, RRC, dan Jepang. Di bawah pemerintahannya, Korea Selatan dinilai berhasil meningkatkan visibilitas dan pengaruhnya di mata dunia internasional hingga terpilih sebagai penyelenggara KTT G-20 Seoul tahun 2010. (mbr/try)


Berita Terkait