Adalah Soe Wen (42) yang sudah hampir 3 tahun berpisah dengan anak dan istrinya. Meski mengakui keindahan Ambon, bagi Wen tak ada yang lebih menyenangkan hatinya daripada kampung halaman.
"Lebih suka di Myanmar, beta mau pulang. Tolong supaya dibantu," ujar Wen yang fasih berbahasa Indonesia dan Ambon saat ditemui di baraknya yang berada di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon, Talui, Kamis (17/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kapal beta ada di Benjina. Kapal Antasena 838. Uang belum dibayarkan sejak awal selama bekerja. 15 ribu bath per bulan. Dapat uang hanya uang saku jika ada trip," tutur bapak 2 anak itu.
Komunikasi Wen dengan anaknya Mou (18) dan Oui (12) serta istrinya sempat terputus. Namun sejak ada moratorium, Wen terus berkomunikasi karena berada di darat.
"Kangen anak di Birma (Myanmar). Beta suka telepon, mereka minta beta cepat pulang. Sekali-kali beta menangis, sudah lama sekali di sini," ucapnya.
Kini Wen hanya tinggal menanti perusahaan membayarkan tunggakan upah serta untuk mengembalikannya ke Myanmar. Pihak perusahaan diwajibkan pemerintah untuk memenuhi kedua hal itu sebelum tanggal 23 Desember 2015 jika tak ingin dibawa ke meja hijau. Wen pun masih harus menunggu Certificate of Identification (COI) keluar. Itu adalah dokumen pengganti paspor.
"Senang, kalau dapat pulang senang sekali. Nanti sampai rumah bisa cari kerjaan," lirih Wen terbata-bata sambil menitikan air mata.
Berbeda dengan Wen, ABK dari Myamar lain yang bernama Asoe (44) mengaku ingin pulang ke Myanmar untuk akhirnya kembali lagi ke Indonesia. Pasalnya Asoe sudah menemukan keluarga di Ambon. Selama meninggalkan kampung halamannya, ia menemukan tambatan hati dan akhirnya menikah.
"Beta sudah dari 2001, awal ke Tual baru ke Ambon. Belum pernah pulang. Lalu menikah di sini," kata Asoe di lokasi yang sama.
Asoe mengaku sudah 5 tahun menikah dan memiliki 2 orang anak berusia 4 dan 2 tahun. Kini ia tinggal bersama keluarganya di daerah Kapaha, Ambon.
Meski keluarga kecilnya berada di Indonesia, Asoe tetap ingin pulang ke Myanmar. Selain itu sebagai salah satu proses agar upahnya dibayarkan, pria ini hendak mengecek keberadaan orangtuanya.
"Sudah 4 tahun tidak komunikasi dengan orangtua. Beta tidak tahu mama papa masih hidup atau tidak. Makanya beta mau pulang dulu," ujarnya sedih.
Jika ternyata kedua orangtuanya masih hidup, Asoe akan membawa istri dan kedua anaknya untuk hidup di Myanmar. Namun kalau orangtuanya sudah meninggal, maka Asoe akan kembali ke Ambon. Ia juga perlu melengkapi dokumen secara resmi agar statusnya di Indonesia tak lagi dipermasalahkan.
"Kalau orangtua sudah tidak ada balik sini. Kalau masih ada ajak anak istri hidup di sana. Pulang dulu ke Myanmar dulu, nanti beta balik. Pakai paspor," pungkasnya.
(elz/dra)











































