ICW: Dana BOS Diselewengkan, di Laci Kepala Sekolah Banyak Stempel

ICW: Dana BOS Diselewengkan, di Laci Kepala Sekolah Banyak Stempel

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 16 Des 2015 14:41 WIB
ICW: Dana BOS Diselewengkan, di Laci Kepala Sekolah Banyak Stempel
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) kepada sekolah kerap diselewengkan. Pihak sekolah dinilai tidak transparan dalam pengelolaan dana BOS.

"Concern ICW soal dana BOS dari tahun 2011. Cuma ada 2 pihak yang tahu soal detail dana BOS yaitu kepala sekolah (kepsek) dan Tuhan," ujar peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson Yuntho dalam kegiatan 'Penerangan Hukum dalam Rangka Memperingati Hari Antikorupsi Sedunia' di Kantor Walikota Jakarta Barat, Jl Raya Kembangan, Jakbar, Rabu (16/12/2015).

Di hadapan para guru peserta kegiatan ini, Eson-panggilan akrab Emerson- menyayangkan betapa tertutupnya dana BOS di sekolah. Ia kemudian bercerita banyak laporan yang masuk ke ICW terkait temuan penyelewengan ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di laci kepsek banyak stempel. Ini bukan guyon tapi temuan. Kita bisa melihat dahsyatnya. Kepsek yang harusnya membawa anak-anak didiknya ke jalan yang lurus dianya malah sesat," keluhnya.

"Sekolah muridnya cuma 100 mintanya 130 ke pemerintah," imbuhnya.

Ia juga menjelaskan pencairan dana BOS juga dirasa lamban, para guru yang hadir pun mengamini hal tersebut. Ia kemudian menyebutkan untuk penyelewengan dana BOS di Jakarta sendiri nilainya cukup fantastis.

"BPK Jakarta menemukan penyelewengan dana BOS tahun 2007-2009 Rp 5,7 M hanya di 7 sekolah di DKI," tuturnya.  

Eson kemudian mengingatkan para guru yang hadir agar mengingat tugas dan kewajiban mereka sebagai pendidik.

"Jadi memalukan ketika dia berkata isu soal moralis tidak boleh korupsi, tapi terlibat dalam praktek korupsi," kata Eson.

"Saya mengingatkan perjalanan karir bapak-ibu masih panjang, kalau terlena gaya hidup mewah tapi gaji tidak cukup. Nanti kalau apes kena kasus hukum, berhadapan dengan penegak hukum," sambungnya.

Di tempat yang sama Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, Reda Mantovani juga mengingatkan para guru tentang bahaya korupsi.

"Yang kadang kita sendiri nggak tahu kalau kita korupsi. Korupsi tadi karena kesengajaan, kemasabodohan atau karena kebodohan," kata Reda.

"Kalau kesengajaan woh paling enak kita ngantemnya," tukasnya.

Menurut Reda, korupsi juga dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar atau tidak ada niatan."Nah yang kasihan kalau dia tidak tahu," ujarnya.

Ia kemudian mencontohkan ketika bantuan BOS masuk, karena seseorang itu merasa pejabat, ia ingin mengambil 20 persen. Akhirnya karena atasan dari dinas yang minta, kemudian diberi.

"Itu kan dia nggak tahu kalau itu salah. Dia kan harus mempertanggungjawabkan yang 100 persen," sambungnya.

"Makanya kita (Kejari) ingatkan terus menerus supaya digetok tularkan ke murid-murid. Jangan deh, jangan nyatut-nyatut, bikin laporan palsu, itu namanya mencuri, kalau kata Ahok 'maling'," ungkapnya.

Acara yang bertempat di kantor Walikota Jakarta Barat ini diadakan dalam rangka hari antikorupsi sedunia dan mengundang seluruh sekolah menengah atas dan kejuruan di wilayah Jakarta Barat. Acara ini dihadiri oleh Walikota Jakbar Anas Effendi, Wakil Walikota M Yuliadi dan Kajari Jakbar Reda Mantovani. (ega/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini