Jejak Ponari Si Dukun Cilik: Raup Uang Rp 1 M, untuk Bangun Rumah dan Beli Sawah

Enggran Eko Budianto, - detikNews
Rabu, 16 Des 2015 11:32 WIB
Foto: Enggran Eko Budianto
Jakarta - Banyak pembaca tentu masih ingat dengan heboh Ponari si dukun cilik dari Jombang, Jatim dengan batunya yang dicelupkan ke air pada 2009 lalu. Ponari kini tak cilik lagi, dia sudah berusia 16 tahun. Ponari juga sudah berbeda dengan dahulu, dia jadi pemuda tegap, walau tetap pemalu.

Detikcom menyambangi rumah Ponari pada Selasa (15/12) kemarin. Ponari tak mau menemui atau diwawancara. Kesempatan melihat Ponari hanya ketika disebut akan berobat meminta air. Neneknya lalu memanggil remaja itu.

Ponari datang lalu mencelupkan batu ke air di teko. Setelah itu dia pergi kembali ke kamarnya tak berbicara lagi. Hanya neneknya yang menemani berbicara.

"Sak niki mboten mesti. Kadang wonten setunggal, kadang sepi (sekarang tak menentu. Kadang ada satu orang, kadang sepi pasien)," ujar nenek Ponari, Mbok Legi.

Hampir 1 jam lamanya detikcom berbincang dengan Mbok Legi. Bapak dan ibu Ponari pun pulang. Berbeda dengan Ponari yang bertubuh tinggi, Kamsin sang bapak terlihat kurus dengan wajah yang pucat. Hanya senyum kecut yang dia pancarkan sembari berlalu masuk ke dalam rumahnya.

Lain halnya dengan Mukaromah. Ibu Ponari ini lebih banyak omongnya. Menurut dia, sejak 16 bulan lalu, Ponari mempunyai adik laki-laki. Balita berkulit kuning langsat itu bernama Muhammad Fuad Lukman Baiy Duwi. Ponari sendiri yang memberikan nama panjang itu untuk adik kandungnya.

Mukaromah menuturkan, sejak pasien mulai sepi, kini Ponari lebih fokus untuk sekolah. Putra pertamanya itu kembali meneruskan pendidikan yang sempat tertunda 3 tahun lamanya. Kesibukan Ponari menjadi 'dukun cilik' membuatnya tak lulus ujian nasional saat kelas VI SD.

"Tahun kemarin ikut ujian di program paket A alhamdulillah lulus. Sekarang melanjutkan lagi ke sekolah Tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SMP). Baru kelas satu," tuturnya.

Saat ribuan orang menyerbu rumahnya awal 2009 lalu, pundi-pundi rupiah terus memgalir ke kantong Mukaromah. Dia mengaku saat itu sempat terkumpul uang Rp 1 miliar lebih dari pasien yang datang. Dengan uang sebanyak itu, dia mampu membangun rumah yang sangat layak, membeli 2 bidang sawah seluas 2 hektar, sepeda motor, dan perabotan rumah tangga.

Menurut dia, uang yang jumlahnya fantastis bagi orang kampung itu kini telah habis. Kondisi ekonomi keluarganya pun kembali seperti semula. Ibu dua anak ini mengeluhkan biaya sekolah Ponari yang tergolong mahal. Padahal biaya ujian akhir semester itu hanya Rp 250.000. Bahkan, untuk melahirkan putra ke duanya Juli 2014, dia kalang kabut mengurus BPJS Kesehatan kelas 3.

"Bapaknya sekarang sibuk ke sawah, ini mau menanam padi. Kalau saya hanya ibu rumah tangga, kalau ada pasien datang kadang buat uang saku Ponari kadang buat belanja," ungkapnya.

Namun, Mukaromah memiliki alasan tersendiri terkait sepinya pasien saat ini. Menurut dia, sejumlah isu negatif membuat pasien tak lagi datang ke rumahnya. Dia lebih percaya dengan keyakinannya itu daripada menyadari jika kesaktian Ponari sudah menghilang.

"Ada isu negatif setelah ditutup polisi bulan Maret 2009. Kabarnya Ponari meninggal, tidak membuka pengobatan lagi. Padahal kami masih menerima pasien sampai saat ini," cetusnya.

Praktik dukun cilik Ponari ini memang sempat ditutup polisi pada Maret 2009. Itu menyusul tewasnya seorang pengunjung akibat berdesak-desakan. Sejumlah pihak saat itu meminta agar praktik Ponari ditutup. Salah satunya adalah Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi yang menilai praktik itu merampas hak Ponari sebagai anak. Namun, sampai bertahun-tahun kemudian, praktik batu Ponari tetap buka. Seiring berjalannya waktu, Ponari mulai ditinggalkan masyarakat. (dra/dra)