Saat mengikuti wawancara oleh Pansel KPK hingga mengikuti fit and proper test di DPR, Saut seringkali melontarkan pernyataan kontroversial. Ada beberapa buah pemikirannya dinilai bertentangan dengan semangat pemberantasan korupsi.
Berikut 4 pernyataan kontroversial Saut Situmorang:
1. Setuju Revisi UU KPK
Saut merupakan satu satunya capim KPK yang menyetujui rencana revisi UU KPK. Menurutnya revisi perlu dilakukan karena UU tersebut dibuat sebelum adanya Konvensi PBB Antikorupsi atau United Nation Convention Against Corruption (UNCAC).
"Ya memang harus di revisi, kita kan sudah meratifikasi UNCAC, dan UU KPK dibuat sebelum UNCAC, jadi memang harus banyak perubahan," kata Saut di ruang rapat Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Senin (14/12).
Semua poin yang akan dimasukkan DPR ke revisi UU KPK disetujui Saut. Bahkan, dia juga setuju dengan pemberian kewenangan SP3 ke KPK.
"SP3 ini perlu, tidak manusiawi kalau tidak ada SP3. Lagi pula nanti juga akan ada Dewan Pengawas yang akan mengawasi kan," jelas Saut.
2. Jika Terpilih Akan Hentikan Kasus BLBI dan Century
Pernyataan tak biasa lainnya yang terlontar dari mulut Saut adalah saat menegaskan akan menghentikan kasus skandal Bank Century dan BLBI apabila menjadi pimpinan KPK. Β
"Kita jangan buang waktu, harus mulai dari zero. Saya bilang saya akan lewatkan kasus Century dan BLBI," kata Saut di ruang rapat Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Senin (14/12).
Saut menegaskan, dirinya akan fokus memulai pemberantasan korupsi yang baru-baru terjadi. Kasus Bank Century dan BLBI disebutnya akan membuang waktu dan tenaga.
"BLBI dan Century itu kita harus mengumpulkan jaksa terbaik, tapi hasilnya apa? Hasilnya malah jaksa Urip itu. Apa kita mau ada Urip lain?" jelasnya.
3. Tak Ingin Publikasikan Proses OTT ke Media
Sebagai wujud transparansi, Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK selalu diumumkan ke khalayak ramai atau media massa. Namun Saut memiliki pendapat lain. Dirinya tak ingin OTT menjadi konsumsi publik.
"Saya katakan harus ada standard of operating yang sesuai. Media harus digunakan, tapi bukan untuk kebencian, sakit hati. KPK lebih berdarah-darah memberantas korupsi ya, penjebakan, atau pembiaran lalu dibawa media, itu yang kita lakukan. Tidak mendidik masyarakat dan saya tidak happy," kata Saut saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan di ruang rapat Komisi III DPR.
Selama melakukan OTT, KPK juga tidak pernah mengajak media. Publikasi dilakukan setelah OTT selesai dilakukan. Namun Saut tidak menghendaki hal itu bila dia mendapatkan posisi pimpinan KPK.
"OTT itu tidak perlu diberitakan. Pemberitaan OTT itu membuat indeks kita semakin menurun. Sudahlah jangan banyak bicara di depan media, yang penting bekerja," imbuhnya.
Saut yang lama berkarir di BIN itu juga tidak setuju KPK terlalu mengandalkan penyadapan. Dia juga setuju sistem penyadapan di KPK harus diawasi melalui revisi UU KPK.
"Penyadapan, alat yang punya saya tidak beda jauh dengan yang di KPK. Kalau bisa kita cegah kenapa harus berdarah-darah. Kalau nanti tim pengawas itu jadi, penyadapan harus diverifikasi, tentunya ada bukti awal. Kalau sudah bukti awal itu kan pencegahan. Mencegah lebih baik itu jelas, terutama kasus kecil," kata Saut.
4. Minta Kasus Korupsi Masa Lalu Dikesampingkan
Tak hanya saat melakukan uji kepatutan dan kelayakan saja, ternyata Saut telah melontarkan pernyataan kontroversialnya sejak tes wawancara seleksi capim KPK. Di hadapan Pansel, mantan anggota BIN itu menilai sudah saatnya korupsi di masa lalu untuk dilupakan.
"Saya akan maafkan apa yang terjadi di masa lalu, tapi mulai hari ini, kalau ada korupsi tak dimaafkan," kata Saut di kantor Setneg, Jl Veteran, Jakpus, Rabu (26/8).
Saut menyebut, seharusnya KPK berfokus pada kejadian korupsi yang terjadi di waktu dekat ini. Bahkan dia menyebut uang negara yang dilarikan karena kejadian korupsi masa lalu tak perlu dikejar lagi.
"Ketika sudah terjadi dan uang tidak kembali ya sudah. Seperti BLBI dan Century adalah kebijakan yang tidak bisa diadili, tentu itu masih debatable," jelasnya.
Mendengar pernyataan Saut, anggota tim pansel terlihat mengernyitkan dahi. Salah satu anggota tim pansel KPK, Betty Alisjahbana kemudian mencecar Saut dengan pertanyaan seputar keinginan Saut untuk mengesampingkan korupsi masa lalu.
"Jadi kalau bapak jadi pimpinan KPK, korupsi masa lalu akan diputihkan?" tanya Betty.
"Tentu tidak langsung memaafkan yang sudah terjadi, kita harus disiplin dan melupakan masa lalu. Tapi tentu kita harus bisa menjelaskan ke masyarakat," tegas Saut
Halaman 2 dari 5











































