Wawancara Ulil Abshar Abdalla
Mendukung Pemerintah Lebih Sulit
Jumat, 04 Mar 2005 15:02 WIB
Jakarta - Freedom Institute tidak terlalu ambil pusing akan banyaknya protes terhadap iklan dukungan kenaikkan BBM yang mereka buat. Mendukung pemerintah memang lebih sulit dari pada mengkritik.Iklan dukungan terhadap kebijakan pemerintah itu muncul 1 halaman penuh di harian Kompas, Sabtu (26/2/2005). Yang membuat iklan bertajuk 'Mengapa Kami Mendukung Pengurangan Subsidi BBM' itu menjadi kontroversial tidak lain adalah 'bintang iklannya' sendiri.Mereka antara lain, Agus Sudibyo, Anggito Abimanyu, Bimo Nugroho, Dino Patti Djalal, Fikri Jufri, Franz Magnis Suseno, Goenawan Muhamad, Jeffrie Geovanie, Saiful Mujani, Todung Mulya Lubis, dan Ulil Abshar Abdalla. Nama-nama itu sebagian besar selama ini dikenal sebagai kaum intelektual yang biasa berteriak mengkritik kebijakan pemerintah.Direktur Freedom Institute, Ulil Abshar Abdalla mengatakan, mereka melihat langkah pemerintah mengurangi subsidi BBM sudah tepat. Pasalnya, subsidi terhadap BBM selama ini salah sasaran. Harga yang ditekan terlalu rendah tidak mendorong perilaku ekonomi yang hemat dan rasional. Tidak hanya itu, rendahnya harga BBM di dalam negeri mendorong maraknya penyelundupan BBM ke luar negeri.Hal tersebut disampaikan Ulil saat berbincang-bincang dengan detikcom melalui telepon, Rabu (2/2/2005) lalu. Selain menjabat sebagai Direktur Freedom Institute, tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) ini juga menjabat sebagai kordinator Jaringan Islam Liberal. Freedom Institute sendiri adalah sebuah lembaga yang dibiayai penuh oleh Aburizal Bakrie, yang kini menjabat sebagai Menko Perekonomian. Berikut perbincangan lengkap antara Ulil dengan detikcom:Mengapa Freedom Institute mendukung kenaikan harga BBM?Seperti tertuang dalam iklan yang sudah kami pasang beberapa waktu lalu. Alasannya adalah bahwa harga BBM yang selama ini murah ternyata mendorong maraknya kasus penyelundupan. Alasan lain, pemerintah tidak punya cukup uang untuk mensubsidi BBM. Sedangkan saat ini masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak, dan masih banyak pos-pos yang lebih perlu untuk di subsidi. Perlu diketahui juga, subsidi BBM selama ini lebih banyak dinikmati kalangan menengah ke atas. Ini menunjukkan tujuan subsidi telah salah sasaran.Bukankah mengurangi subsidi BBM bukan satu-satunya jalan?Kenaikan semacam ini bukanlah pilihan yang terbaik. Pemerintah pun dilematis karena dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama buruk, bukan dua pilihan antara yang baik dan yang buruk. Dan menurut pandangan kami, dampak buruk pencabutan subsidi lebih sedikit dari pada tidak dicabut. Kita dihadapkan pada pilihan yang dua-duanya pilihan buruk.Mengapa dukungan itu harus diberikan dengan cara memasang iklan?Selama ini banyak pemberitaan di koran yang akhirnya membentuk suatu opiniyang mengesankan bahwa pihak yang mendukung pencabutan subsidi itu tidak pro-rakyat, itu opininya. Padahal ada pihak yang tidak berpendapat demikian, karena subsidi yang dipertahankan sebenarnya bukan pro-rakyat.Ini tidak fair karena nyatanya yang paling banyak menikmati adalah kelas atas. Masak Rp 70 triliun digunakan untuk membiayai orang-orang itu. Mestinya subsidi tidak dilakukan melalui mekanisme harga. Seharusnya menggunakan mekanisme subsidi langsung, jadi yang mendapat subsidi akhirnya semua orang justru bukan sasaran yang dituju.Cuma itu alasannya?Kita hanya ingin menunjukkan bila pemerintah sudah berbuat baik, sebaiknya kita harus dukung. Kita tidak mau ada kesan dan justru ingin menghilangkan kesan bahwa mendukung pemerintah itu buruk. Sebenarnya mengkritik itu mudah, tapi mendukung justru lebih sulit.Ada titipan dari pemerintah?Itu (iklan) memang ide dari kami. Tidak ada sama sekali pesan atau titipan dari pemerintah meski Freedom Institute ini dibiaya oleh Pak Ical (Aburizal), tetapi kita tetap independen. Itu murni, seperti iklan-iklan yang sudah kita buat yakni iklan buku dan sebagainya.Bagaimana tokoh intelektual lainnya bisa bergabung?Kita mengajak orang-orang yang sudah punya pendapat yang sama dengan kita. Kita dari Freedom Institute yang menghubungi kawan-kawan tersebut, kita yang merangkul mereka semua. Mereka semua tanda tangan dan waktu perangkulannya itu hanya 2 hari karena orang-orang yang ikut tanda tangan adalah teman-teman kita sendiri.Konon ada yang merasa namanya dicatut?Mereka dari awal sudah setuju bahwa subsidi itu dicabut. Bahkan Romo Magnis pun pernah membuat tulisan di Kompas. Jadi semua orang di situ tidak ada yang dicatut. Dan ini tidak ada kaitan apapun dengan pemerintah atau kita dimanfaatkan oleh pemerintah.Berapa harga pemasangan iklan tersebut?Rp 290-an juta untuk sehari.Soal banyak yang mengkritik iklan tersebut?Semua orang boleh berkomentar. Menurut saya, anda harus berani melawan arus. Menurut saya selama ini opini yang berkembang di masyarakat adalah bahwa kalau orang yang mendukung pencabutan subsidi itu tidak pro-rakyat. Tapi nyatanya tidak demikian. Jadi harus ada yang berani menerobos kebekuan opini tersebut.
(djo/)











































