"Kuota haji dari pemerintah Arab dikaitkan dengan jumlah umat muslim di negara itu sendiri. Di Indonesia kuota haji ada 211 ribu pertahun," kata Dirjen Penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah Kementerian Agama, Abdul Djamil.
Abdul Djamil (Foto: Abduh/detikcom) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abdul mengatakan kouta yang terbatas itu tak bisa menampung jumlah calon jemaah yang ingin berhaji. Alhasil mereka harus mengantre panjang. Dia mencontohkan salah satu kasusnya terjadi di daerah Kalimantan Timur, di mana ada yang harus mengantre hingga 20 tahun lamanya.
"Kaltim ada 20 tahun yang antre, kalau yang daftar haji itu di atas usia 50 berarti usianya sudah 70 tahun lebih," ucap Abdul.
Hal ini membuat Kementerian Agama memberikan prioritas khusus bagi para lansia agar bisa berangkat lebih awal. Meski begitu masih ada masalah yang dihadapi, yakni soal angka kematian jemaah yang jumlahnya meningkat karena banyaknya jemaah lansia.
"Problem ini membuat orang berfikir ulang untuk mendaftar haji dan beralih ke umrah. Sehingga umrah menjadi potensi market yang luar biasa saat ini," katanya.
Presdir BNI Syariah Dinno Indiano menambahkan antrean haji yang begitu panjang membuat sebagian jemaah mengisi waktu antrean mereka dengan melaksanakan umrah lebih dulu.
Dinno Indiano (Foto: Abduh/detikcom) |
"Kita melihat umrah akan semaki besar di Indonesia, perbulan 60 ribu jemaah yang umrah, sementara haji ada 200 ribuan jemaah selama musim haji," kata Dinno.
Dinno berharap para travel haji dan umrah serta perbankan yang bergerak di bidang pembiayaan bisa melayani para jemaah dengan baik dan maksimal. Namun perlu diingat, lanjut Dinno, pelayaan ibadah ke Tanah Suci ini jangan hanya semata-mata bisnis, harus melihat berkah dan hasanah atau kebaikannya.
"Kita harapkan ke depannya bisa berperan membuat servis yang lebih baik lagi untuk jamaah haji kita," ucap Dinno. (slm/mad)












































Abdul Djamil (Foto: Abduh/detikcom)
Dinno Indiano (Foto: Abduh/detikcom)