Sebulan Setelah Teror Paris, Antara Turis dan Patroli Tentara di Belgia

Laporan dari Brussels

Sebulan Setelah Teror Paris, Antara Turis dan Patroli Tentara di Belgia

Triono Wahyu Sudibyo - detikNews
Selasa, 15 Des 2015 08:23 WIB
Sebulan Setelah Teror Paris, Antara Turis dan Patroli Tentara di Belgia
Foto: Triono Wahyu Sudibyo/detikcom
Brussels - Bulan lalu, tepatnya 13 November, Eropa diguncang teror. Kota mode, Paris, diserang teroris. Sebanyak 130 orang tewas dan ratusan terluka. Belgia kena imbasnya.

Berselang beberapa hari setelah teror Paris, kawasan Molenbeek, Brussels, Belgia, digerebek aparat kepolisian. Sebabnya, 3 pelaku teror Paris berasal dari kawasan tersebut. Belgia kemudian menetapkan Siaga IV, level tertinggi dalam hal keamanan.

Pekan lalu, 5 jurnalis Indonesia, termasuk detikcom, berkunjung ke Brussels. Saat itu dan hingga kini, kondisi di sana masih Siaga III, yang artinya waspada. Segala sesuatu bisa saja terjadi.

Meski demikian, tidak terlihat hal berlebihan sepanjang bandara Brussels dan pusat kota. Bahkan pemeriksaan di bandara cukup longgar, termasuk bagi pendatang. Tidak ada penjagaan ketat. Tidak ada polisi berseliweran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di pusat kota, aktivitas warga normal. Transportasi umum, mulai dari trem hingga kereta bawah tanah, beroperasi. Turis Eropa—berdasarkan bahasa yang digunakan sebagian di antaranya berasal dari Jerman dan Eropa Timur, dan Asia berada di pusat-pusat keramaian, seperti Istana Raja, Grand Palace atau Alun-alun, dan lokasi perbelanjaan.

Yang agak beda hanya keberadaan tentara bersenjata lengkap yang sesekali berpatroli dengan berjalan kaki. Cuma 2 personel dalam setiap patroli. Mereka tak terlalu intimidatif, malah seperti hanya melintas saja.

Kondisi siang dan malam nyaris sama. Di pusat-pusat turis, ramai orang. Sesekali terlihat tentara berjalan kaki.

"Mereka (tentara) hanya mengamankan objek vital," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri, Perdagangan, dan Pembangunan Kerajaan Belgia, Didier Vanderhasselt, yang mendampingi jurnalis Indonesia dalam berbagai sesi pertemuan dengan pejabat kementerian dan Kerajaan Belgia.

Didier mengatakan hal itu setelah kami mengawasi 2 tentara yang berjalan sambil menenteng senjata di dekat kantor kementerian. Dia seolah mengerti bahwa kami penasaran dengan keberadaan tentara tersebut.

"Mungkin ada berita yang agak berlebihan, tapi percayalah semua baik-baik saja," kata Deputi Perdana Menteri dan Menteri Urusan Pembangunan, Alexander de Croo, kepada jurnalis Indonesia dalam kesempatan terpisah.

Kehidupan warga  di luar Kota Brussels, seperti Mons, Liege, dan Mechelen serta Antwerp, juga sangat normal. Malah jarang terlihat tentara berpatroli.

Belgia berpenduduk 11 juta jiwa, lebih sedikit dibanding DKI Jakarta. Negara ini menjadi pusat kantor Uni Eropa dan organisasi internasional. Dalam beberapa kali aksi teror, Molenbeek kerap jadi sasaran pemberitaan. Dan benar, beberapa pelaku teror memang berasal dari kawasan tersebut.

Saat ini, Molenbeek dihuni 95 ribu jiwa. Sebagian besar di antaranya eks imigran Maroko yang beragama Islam.

"Pelaku teror (dari Molenbeek) merupakan generasi kedua dan ketiga para imigran. (Teror) Tidak ada kaitan dengan agama. Kami memerangi teror, bukan agama. Karena teror bisa bersumber dari apapun," tegas Alexander de Croo.

Belgia cukup moderat dalam hal imigran dan toleran soal agama. Di antara megahnya gereja dan sinagog, ada masjid besar di Brussels. Selain itu, di tengah hiruk pikuk turis berbagai negara, banyak perempuan berhijab berlalu lalang di jalan. Semua berjalan seperti biasa baik sebelum maupun setelah teror Paris.

(try/jor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads