"Ibu Kota negara anggotanya enggak dikasih alat untuk kerja. Saya kalau mau nyari Perda yang dibutuhkan kan mesti nyari arsip naik tangga, berdebu, batuk kita. Kan sudah enggak model. Kalau ada laptop kan tinggal dibuka," ujar Taufik usai menemui Ahok di ruangan kerjanya, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (14/12/2015).
Taufik menilai pengadaan laptop ini sangat penting mengingat pekerjaan dewan yang sangat banyak. Dia juga mengatakan pengadaan 106 laptop untuk seluruh anggota DPRD tentu tidak berat bagi eksekutif.
"Kita juga minta ke Sekwan, jangan laptop kosong yang dikasih ke gue, lo isi seluruh peraturan yang pernah ada. Ini yang kita sebut parlemen modern. Jangan kayak di kampung emak gue di Banten ini, masa mau manggil orang mesti teriak-teriak. Kan enggak cocok dong, gedungnya ratusan miliar. Kita kerja capek bawa tumpukan lampiran, sudah enggak pantes Ibu Kota negara kayak gitu," terangnya.
Selain itu, Taufik mengusulkan agar Pemprov bisa membeli peralatan barupa meja dan kursi untuk anggota dewan. Sebab, menurutnya, yang saat ini sudah terlalu usang.
"Sekali lagi saya sampaikan itu bagian dari kebutuhan, meja bagian dari kebutuhan. Anda bayangin saja masa duduk ngangkang kelihatan (tidak tertutup sampai bagian bawah). Ini meja DPRD Ibu Kota negara loh," kata dia.
"Pokoknya gini, paling jelek di seluruh Indonesia itu ruangan rapat DPRD DKI. Di daerah itu mejanya tuh bagus, enggak keliatan kalau ngangkang. Kan ini kalau ngongkong kelihatan," pungkasnya. (aws/aan)











































