Menurut Komisioner nonaktif KPK Bambang Widjojanto, berdasarkan hasil survei yang pernah dilakukan KPK, uang korupsi yang dilakukan koruptor pria kebanyakan tidak dibawa ke rumah untuk istri.
"Menurut survei KPK, uang yang dikorupsi tidak dipakai buat istri tapi buat WIL (wanita idaman lain). Jadi yang jadi korban kaum ibu kan?," ujar Bambang saat diskusi "KPK dalam Ancaman" di Stand Kompas, Festival Anti Korupsi, Sabuga, Jalan Tamansari, Jumat (11/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai saat ini, kata dia, seharusnya seluruh kaum ibu menyadari bahwa naiknya harga beras, minyak, ataupun susu itu salah satunya akibat korupsi. Hal itu harus ditanamkan terus dan menjadi pola pendidikan bagi anak-anaknya.
"Kaum ibulah penerus generasi bangsa. Ibu punya peranan sangat penting," tegasnya.
Ia juga berharap kaum perempuan peduli dengan ancaman untuk pelemahan KPK saat ini. "Bayangkan kalau kaum ibu sudah bergerak, sudah turun ke jalan, berarti bangsa ini benar-benar dalam bahaya," tegasnya.
Sebagai perempuan, peneliti ICW Lalola Easter yang menjadi salah satu pembicara itu sepakat semua pihak tak terkecuali kaum perempuan untuk bersama-sama memperjuangkan keberadaan KPK.
"Mungkin revisi KPK nanti bisa dilakukan 80 tahun atau 100 tahun yang akan datang. Kalau saat ini dilakukan banyak mudhorotnya," ujarnya.
Lalola juga mengimbau generasi muda untuk tidak berpangku tangan. Semua harus ambil peran terhadap isu-isu sosial yang terjadi di lingkungan. "Mungkin kita tidak merasakan langsung dampak korupsi, tidak seperti kalau penganiayaan, pemerkosaan dan lainnya. Tapi percayalah, ini merusak kita dan generasi penerus kita," pungkasnya. (ern/dra)











































